BITUNG, indinews.id – Limbah kelapa yang selama ini kerap dipandang sebagai sisa tak terpakai kini menjadi peluang usaha bagi penyandang disabilitas di Kota Bitung, Sulawesi Utara.
Melalui program Pusat Ajar Disabilitas Unggul (PADU), Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui Integrated Terminal (IT) Bitung mendorong kelompok KALEB Community mengolah limbah kelapa menjadi kerajinan bernilai ekonomi.
Program ini tidak sekadar mengajarkan keterampilan membuat kerajinan. Lebih dari itu, PADU membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya, mengembangkan potensi, dan terlibat dalam kegiatan usaha produktif sesuai kemampuan masing-masing.
Pendampingan dilakukan melalui kegiatan Trainers of Trainer (ToT) dan pelatihan pembuatan kerajinan berbahan limbah kelapa. Para tutor terlebih dahulu mendapatkan pembekalan dari tenaga profesional sebelum mendampingi anggota kelompok dalam proses produksi.
Kegiatan tersebut melibatkan penyandang disabilitas, termasuk teman tuli dan penyandang disabilitas fisik. Pembagian tugas disesuaikan dengan keterampilan, minat, serta kebutuhan aksesibilitas setiap anggota.
Selain terlibat dalam pembuatan produk, anggota kelompok juga berpeluang mengambil peran dalam pemasaran dan komunikasi produk.
Penyesuaian tempat kerja dan peralatan turut diperhatikan untuk mendukung kenyamanan, keselamatan, dan aksesibilitas selama kegiatan berlangsung.
Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, mengatakan pemberdayaan masyarakat harus memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi dalam kegiatan ekonomi.
Pemberdayaan yang berkelanjutan perlu memberikan ruang bagi setiap orang untuk mengembangkan potensi dan mengambil peran sesuai kemampuannya.
"Melalui PADU, Pertamina mendukung peningkatan keterampilan penyandang disabilitas sekaligus mendorong tumbuhnya kegiatan usaha yang memiliki nilai ekonomi. Kami berharap pendampingan ini dapat menjadi pijakan bagi KALEB Community untuk semakin mandiri dan menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Lilik, Kamis (15/10/2026).
Mengubah Limbah Menjadi Peluang Usaha
Salah satu potensi yang dikembangkan melalui program PADU adalah pemanfaatan kayu kelapa, batok kelapa, dan sabut kelapa sebagai bahan baku kerajinan.
Material yang mudah ditemukan di Sulawesi Utara tersebut diolah menjadi produk kreatif oleh anggota KALEB Community. Saat ini, kelompok binaan itu memanfaatkan sekitar 20 kilogram limbah kelapa setiap bulan, menyesuaikan dengan permintaan produk.
Jika pemanfaatan tersebut berlangsung konsisten selama setahun, jumlah limbah kelapa yang diolah diperkirakan mencapai 240 kilogram.
Selain memberikan nilai tambah ekonomi, kegiatan ini turut memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah kembali material sisa menjadi produk yang bermanfaat.
Bagi KALEB Community, pengembangan keterampilan dan pengolahan limbah tersebut diharapkan menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kemandirian usaha sekaligus memperluas kesempatan memperoleh pendapatan.
Regenerasi Local Hero Program PADU Pertamina Patra Niaga IT Bitung, Mega Yanti Makaminang, mengatakan pendampingan berkelanjutan diperlukan agar potensi anggota kelompok dapat berkembang dan menghasilkan manfaat ekonomi.
“Melalui PADU, kami ingin memastikan teman-teman penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi yang mereka miliki," kata Mega.
Pemanfaatan limbah kelapa menjadi kerajinan memberi pengalaman baru bagi kelompok binaan, sekaligus membuka peluang agar hasil karya mereka semakin dikenal dan memiliki nilai ekonomi.
"Harapannya, kegiatan ini dapat terus berkembang dan menjadi langkah menuju kemandirian usaha KALEB Community,” ujar Mega.
Disiapkan Menjadi Destinasi Wisata Edukasi
Tak berhenti pada pelatihan dan produksi kerajinan, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui IT Bitung juga menjajaki peluang pengembangan KALEB Community sebagai destinasi wisata edukatif.
Gagasan tersebut dirancang untuk memperkenalkan proses pembuatan kerajinan berbahan limbah kelapa sekaligus memberikan pengalaman berinteraksi secara inklusif dengan penyandang disabilitas.
Konsep yang tengah dijajaki itu mencakup lokakarya pembuatan kerajinan, pengenalan bahasa isyarat bersama teman tuli, serta pengalaman menikmati kopi dari Cue Cafe, salah satu unit usaha KALEB Community.
Pengunjung nantinya diharapkan dapat melihat proses kreatif para anggota kelompok sekaligus membawa pulang kerajinan hasil karya mereka.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, konsep ini berpotensi membuka peluang pasar baru, memperluas jejaring usaha, dan meningkatkan pengenalan masyarakat terhadap produk KALEB Community.
Pengembangannya direncanakan melibatkan pemerintah daerah, dinas terkait, serta pemangku kepentingan lainnya agar kreativitas lokal, edukasi lingkungan, dan inklusivitas dapat terintegrasi dalam kegiatan ekonomi masyarakat.
Program PADU sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain pendidikan berkualitas, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, pengurangan kesenjangan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta kemitraan untuk mencapai tujuan.
Melalui program ini, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi berupaya mendorong pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada pelatihan, tetapi juga membuka jalan menuju usaha produktif dan berkelanjutan.
Pengembangan KALEB Community diharapkan dapat memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkarya, memperoleh manfaat ekonomi, dan mengambil bagian dalam pembangunan sosial di Kota Bitung.
(sab)


