MANADO, indinews.id - Festival Literasi Sulawesi Utara 2026 resmi ditutup di Museum Negeri Sulawesi Utara, Minggu (4/10/2026), setelah berlangsung selama tiga hari dengan mengusung tema “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban”.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi pegiat literasi, penulis, seniman, komunitas, pelaku UMKM, serta generasi muda untuk bertukar gagasan dan menghasilkan karya.
Selama pelaksanaan, berbagai kegiatan digelar, di antaranya bincang buku, talkshow, lokakarya, pameran buku dan seni, bazar UMKM, pertunjukan, hingga Grand Final Putra-Putri Literasi Sulawesi Utara 2026.
Panitia mencatat sebanyak 3.431 peserta telah mengikuti rangkaian kegiatan sejak hari pertama hingga penutupan.
“Festival ini menjadi ruang perjumpaan antara literasi, budaya, seni, kreativitas, dan generasi muda Sulawesi Utara,” ujar Ketua Umum Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU), Standius Bara Prima, M.I.Kom
Festival yang memasuki tahun kedua ini juga menghadirkan sejumlah tokoh dan pegiat literasi dari Sulawesi Utara hingga tingkat nasional. Kehadiran mereka dinilai memberikan kesempatan bagi penulis, seniman, komunitas, dan generasi muda untuk bertemu, berdiskusi, sekaligus mengembangkan kreativitas.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Julio Lawendatu dari Kabupaten Kepulauan Sangihe terpilih sebagai Putra Literasi Sulawesi Utara 2026. Sementara Fidelis Greatania dari Kota Manado dinobatkan sebagai Putri Literasi Sulawesi Utara 2026.
Bara berharap kedua duta literasi tersebut dapat menjalankan amanah dengan membawa gerakan literasi semakin dekat dengan masyarakat.
“Kami berharap gelar ini bukan sekadar penghargaan, tetapi menjadi awal dari tanggung jawab teman-teman untuk membawa gerakan literasi lebih dekat ke sekolah, kampus, komunitas, serta masyarakat,” katanya.
Bara juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, instansi terkait, narasumber, mitra, sponsor, media, komunitas, relawan, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan festival.
Permohonan maaf turut disampaikan apabila selama pelaksanaan masih terdapat kekurangan. Menutup rangkaian kegiatan, Bara mengingatkan bahwa berakhirnya festival tidak boleh menjadi akhir dari gerakan literasi di Sulawesi Utara.
Masyarakat diajak untuk terus membangun kebiasaan membaca, menulis, berkarya, serta memperkenalkan kekayaan cerita dan kearifan lokal Sulawesi Utara kepada Indonesia dan dunia.
“Festival ini memang berakhir hari ini, tetapi gerakan literasi tidak boleh ikut selesai. Mari kita terus merawat kearifan dan menciptakan narasi untuk masa depan peradaban,” pungkasnya.
(sab)
