![]() |
| Gedung Otoritas Jasa Keuangan (Foto: Istimewa) |
JAKARTA, indinews.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 28 Januari 2026.
Dalam rapat tersebut, OJK mencermati bahwa perekonomian global masih bergerak terbatas. Sejumlah lembaga multinasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 cenderung stagnan dan berada di bawah rata-rata historis, seiring melemahnya aktivitas perdagangan dan permintaan global.
Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi, M. Ismail Riyadi mengatakan risiko geopolitik juga mengalami peningkatan, terutama akibat eskalasi ketegangan di Iran.
"Meski demikian, kebijakan moneter global diperkirakan tetap berada pada jalur akomodatif guna menopang pertumbuhan ekonomi," ujarnya dalam keterangan resminya yang diterima Sabtu (7/2/2026).
Di Amerika Serikat, perekonomian masih menunjukkan kinerja yang solid dengan tekanan inflasi yang terus mereda. Tingkat pengangguran tercatat menurun, meskipun laju pertumbuhan lapangan kerja mulai melambat.
Hal tersebut tercermin dari realisasi penambahan tenaga kerja pada Desember 2025 yang lebih rendah dibandingkan estimasi. Ke depan, The Fed diperkirakan akan mempertahankan Fed Fund Rate setidaknya hingga Juni 2026.
Sementara itu, di kawasan Asia, ekonomi Tiongkok tumbuh sebesar 5,0 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sejalan dengan target pemerintahnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh surplus neraca perdagangan yang terus meningkat hingga mencetak rekor baru.
Di Jepang, tekanan pada pasar obligasi kian menguat, khususnya pada tenor jangka panjang. Tingginya kepemilikan asing pada Japanese Government Bond (JGB) jangka panjang meningkatkan kerentanan terhadap risiko sudden stops dan herding, yang berpotensi memicu rambatan global melalui penyesuaian ulang risiko lintas kelas aset.
"Dari sisi domestik, OJK menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Inflasi headline atau Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat menjadi 3,55 persen yoy, dengan inflasi inti naik ke level 2,45 persen yoy," katanya.
Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimistis, sementara penjualan mobil dan sepeda motor mencatatkan kenaikan signifikan menjelang berakhirnya insentif kendaraan listrik.
Dari sisi penawaran, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur terus menunjukkan tren ekspansif. Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 5,11 persen.
(sab)
