Notification

×

Bank Indonesia Dorong Kerja Sama Antar Daerah dan Digitalisasi Pertanian untuk Kendalikan Inflasi di Bolsel

20 Mei 2026 | Mei 20, 2026 WIB Last Updated 2026-05-20T21:24:32Z

 

Pelaksanaan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Rabu (20/5/2026). (Foto: Hilda Margaretha)


BOLSEL, indinews.id - Bank Indonesia mendorong penguatan kerja sama antar daerah serta penerapan digitalisasi pertanian sebagai langkah strategis menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).


Hal itu disampaikan oleh Bupati Bolsel, Iskandar Kamaru pada High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Rabu (20/5/2026).



Dalam pemaparannya disebutkan, kerja sama antar daerah menjadi salah satu instrumen strategis untuk menjaga kestabilan harga komoditas pangan sekaligus melindungi kesejahteraan petani.


“Kalau kita bekerja sama dengan daerah surplus, daerah penghasil, kita akan memperoleh harga yang relatif murah karena langsung dari petani tanpa melalui perantara atau rantai pasok yang panjang,” Bupati Bolsel, Iskandar Kamaru.


Menurutnya, pola kerja sama tersebut memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Daerah konsumen dapat memperoleh harga pangan lebih terjangkau, sementara daerah produsen memiliki kepastian pasar saat masa panen raya.


“Petani tidak perlu khawatir harganya akan jatuh saat panen raya karena sudah ada komitmen pembelian dari daerah mitra. Dengan demikian, stabilitas pendapatan petani dapat lebih terjaga,” katanya.


Bank Indonesia pun menyatakan dukungannya terhadap penguatan kerja sama antar daerah, baik di tingkat kabupaten/kota di Sulawesi Utara maupun antarprovinsi. Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui fasilitasi pertemuan bisnis atau matching business antara pelaku usaha, kelompok tani, hingga badan usaha milik daerah (BUMD).


Selain kerja sama antarwilayah, digitalisasi sektor pertanian juga dinilai menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan inflasi dan perubahan iklim.


“Di era digital seperti sekarang ini, kita perlu mendorong digitalisasi di sektor pertanian atau yang sering disebut dengan smart farming,” ujarnya.


Pemanfaatan teknologi digital disebut dapat membantu petani dalam memantau kondisi cuaca, tanah, hingga sistem pengairan sehingga produktivitas meningkat dan biaya produksi menjadi lebih efisien.


Tak hanya di sektor produksi, digitalisasi pada sisi pemasaran juga dinilai penting. Penggunaan platform perdagangan digital atau e-commerce lokal diyakini mampu memangkas rantai distribusi sehingga petani dapat langsung terhubung dengan konsumen.


Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa tantangan pengendalian inflasi ke depan diperkirakan semakin kompleks akibat dinamika global dan perubahan iklim yang sulit diprediksi.


Karena itu, koordinasi dan sinergi antarinstansi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat.


“Saya yakin dan percaya, dengan komitmen yang kuat dari Pak Bupati, seluruh jajaran pemerintah daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, serta sinergi yang apik dengan Bank Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan, kita mampu menjaga stabilitas harga di daerah ini,” katanya.


Ia menambahkan, stabilitas harga yang terjaga akan berdampak langsung terhadap peningkatan daya beli masyarakat, pengurangan angka kemiskinan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close