Notification

×

Inflasi Sulut Masih Terkendali, Harga Tomat dan Tiket Pesawat Jadi Pemicu Kenaikan

20 Mei 2026 | Mei 20, 2026 WIB Last Updated 2026-05-20T21:20:41Z

 

Kepala KPw BI Sulut, Joko Supratikto saat memaparkan mengenai kondisi inflasi Sulut dan pemantauan harga komoditas di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan dalam kegiatan koordinasi pengendalian inflasi daerah, Rabu (20/5/2026). (Foto: Hilda Margaretha)

BOLSEL, indinews.id - Inflasi di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada April 2026 tercatat masih berada dalam rentang sasaran nasional. Namun demikian, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan hingga tarif angkutan udara menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di daerah tersebut.


Hal itu disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulut, Joko Supratikto pada High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Rabu (20/5/2026).


Dalam penjelasannya, Joko menyampaikan inflasi Sulut pada April 2026 tercatat sebesar 0,96 persen secara bulanan atau month-to-month. Sementara secara kumulatif sejak Januari hingga April mencapai 2,93 persen, sedangkan secara tahunan atau year-on-year berada di angka 2,14 persen.


“Ini memang masih berada di range sasaran inflasi, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen,” ujar Kepala KPw BI Sulut, Joko Supratikto.


Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama inflasi bulanan di Sulut adalah kenaikan harga tomat. Kondisi itu dipicu berakhirnya masa panen raya sehingga stok mulai berkurang di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.


“Tomat ini mendorong kenaikan harga utama karena memang sudah selesai masa raya panen. Jadi stoknya mulai menipis, sementara kebutuhan masyarakat akan dabu-dabu itu tetap,” katanya.


Selain komoditas pangan, kenaikan tarif angkutan udara juga turut memberi andil terhadap inflasi daerah. Menurutnya, kondisi global yang memengaruhi pasokan minyak dunia berdampak pada kenaikan harga avtur sehingga tiket pesawat ikut mengalami kenaikan.


“Ini memang tidak bisa dikendalikan oleh daerah. Harga avtur terutama untuk angkutan pesawat mengalami kenaikan yang sangat luar biasa sehingga harga tiketnya pun menjadi naik,” ujarnya.


Bahkan, kata dia, sejumlah penerbangan dari Jakarta ke Manado sempat menghentikan operasional karena meningkatnya biaya operasional penerbangan.


Di sisi lain, komoditas daun bawang justru menjadi penahan laju inflasi di Sulut. Melimpahnya hasil panen di wilayah Minahasa Selatan dan Tomohon membuat harga komoditas tersebut cenderung stabil.


Secara spasial, inflasi bulanan tertinggi tercatat terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan, disusul Minahasa Utara.


Meski Kabupaten Bolsel bukan daerah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), pemantauan harga tetap dilakukan melalui survei oleh instansi terkait dan Bank Indonesia melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS).


Dalam kesempatan itu juga diungkapkan bahwa volatilitas harga komoditas di Sulut cenderung lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius karena fluktuasi harga yang terlalu tajam dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan petani.


“Kalau penurunan harga terlalu dalam, ini dapat menekan kesejahteraan para petani. Namun kenaikan harga yang terlalu tinggi juga mengurangi daya beli masyarakat,” katanya.


Ia menegaskan stabilitas harga perlu terus dijaga agar pertumbuhan ekonomi tetap berkualitas dan berkelanjutan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tinggi tidak akan berdampak signifikan apabila dibarengi lonjakan harga kebutuhan pokok.


Sementara itu, berdasarkan data historis, pergerakan harga komoditas di Bolsel disebut cenderung mengikuti Kota Kotamobagu sebagai pusat distribusi utama di wilayah Bolaang Mongondow Raya.


Beberapa komoditas seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan tomat disebut memiliki tingkat volatilitas tinggi, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Idulfitri.


Pemerintah daerah pun diminta memperhatikan ketersediaan stok serta melakukan intervensi apabila harga mulai melonjak terlalu tinggi. Namun intervensi juga diharapkan tetap memperhatikan kesejahteraan petani agar harga komoditas tidak jatuh terlalu rendah.


“Tentunya kita juga menjaga supaya harganya tidak terlalu rendah karena ini mengurangi kesejahteraan para petani,” ujarnya.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close