Notification

×

Bitung Andalkan Kolaborasi dan Teknologi Pertanian untuk Jaga Stabilitas Inflasi

26 Juni 2026 | Juni 26, 2026 WIB Last Updated 2026-06-26T03:32:22Z

 

HLM TPID Kota Bitung bersama BI Sulut yang juga dihadiri unsur Pemerintah Kota Bitung, Forkopimda, serta para pemangku kepentingan terkait, Jumat (26/6/2026) (Dok. Lily Paputungan)

BITUNG, indinews.id - Pemerintah Kota Bitung berkomitmen mempertahankan prestasi sebagai daerah dengan kinerja pengendalian inflasi terbaik di Sulawesi melalui penguatan kolaborasi dengan Bank Indonesia (BI), pemanfaatan teknologi pertanian, serta kerja sama antardaerah.


Komitmen tersebut disampaikan usai Kota Bitung menerima apresiasi atas keberhasilannya mengendalikan inflasi. Pemerintah daerah menilai dukungan Bank Indonesia masih sangat dibutuhkan agar capaian tersebut dapat dipertahankan.


"Kami berharap tetap ada dukungan dari Bank Indonesia supaya kami mampu mempertahankan prestasi itu. TPID juga akan terus melakukan kontrol pasar bersama Perumda Pasar Kota Bitung agar stabilitas harga tetap terjaga," ujar Wali Kota Bitung, Hengky Honandar, usai pelaksanaan HLM TPID Kota Bitung, Jumat (26/6/2026)


Keterbatasan lahan pertanian di Kota Bitung menjadi salah satu tantangan dalam menjaga pasokan komoditas pangan. 


Untuk mengatasinya, pemerintah akan memanfaatkan lahan milik swasta sekaligus mencari bibit unggul yang mampu menghasilkan produksi lebih tinggi di lahan yang terbatas.


"Kami mencoba memanfaatkan lahan yang ada, termasuk lahan milik swasta. Selain itu, kami mencari bibit unggul agar dengan lahan yang sedikit tetap menghasilkan produksi yang lebih banyak," katanya.


Ia menambahkan, pemerintah telah memperoleh bibit bawang merah saat kegiatan Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan. Bibit tersebut akan dikembangkan di Kota Bitung sebagai upaya menjaga ketersediaan pasokan dan menekan gejolak harga.


"Bibit bawang merah itu akan kami tanam di Kota Bitung agar dapat membantu mengimbangi harga di pasaran sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan. Program ini juga sudah didukung Bank Indonesia bersama beberapa kelompok tani," ujarnya.


Menurutnya, harga bawang merah di Kota Bitung saat ini berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram dan diharapkan tetap terkendali melalui peningkatan produksi lokal.


Menanggapi keterbatasan lahan, pemerintah juga membuka peluang pengembangan teknologi pertanian, termasuk sistem greenhouse yang dinilai cocok diterapkan di wilayah perkotaan.


"Teknologi pertanian sebenarnya sudah banyak diperkenalkan, termasuk saat Penas. Bank Indonesia juga memiliki berbagai teknologi yang bisa dimanfaatkan. Tinggal bagaimana kita memperkuat kolaborasi agar teknologi tersebut dapat diterapkan di Kota Bitung," katanya.


Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Joko Supratikto menjelaskan bahwa komoditas yang paling berpotensi memicu inflasi di Sulawesi Utara masih didominasi bawang merah, cabai, dan tomat. Sebaliknya, harga beras dan daging ayam relatif stabil.


Ia menilai keterbatasan lahan di Kota Bitung dapat diatasi melalui pemanfaatan teknologi pertanian dan penguatan kerja sama antardaerah.


"Jika lahan terbatas, salah satu solusi adalah kerja sama antardaerah. Bitung memiliki surplus ikan yang dapat dipasarkan ke daerah lain, sementara kebutuhan bawang, cabai, dan tomat bisa dipenuhi melalui kerja sama dengan daerah penghasil. Langkah ini dapat membantu menjaga stabilitas harga," ujar Joko 


Menurutnya, penghargaan yang diterima Kota Bitung bukan menjadi tujuan utama, melainkan hasil dari upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan masyarakat dan petani.


"Yang terpenting adalah masyarakat mendapatkan harga yang terjangkau, sementara petani tetap memperoleh keuntungan yang layak. Harga tidak boleh terlalu rendah karena petani akan merugi, tetapi juga tidak boleh terlalu tinggi karena akan membebani masyarakat," katanya.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close