![]() |
| Poster film Free Wi-Fi (Ilustrasi Istimewa) |
MANADO, indinews.id - Produser film Free Wi-Fi, Lucy, menargetkan 100 ribu penonton dari Sulawesi Utara untuk film terbarunya. Target tersebut dinilai realistis sekaligus menjadi tolok ukur apresiasi masyarakat terhadap karya sineas lokal.
Dalam sesi diskusi bersama media, Lucy mengatakan proses produksi Free Wi-Fi tidak menghadapi tantangan berarti karena para pemain diberi ruang untuk berimprovisasi sesuai karakter masing-masing.
"Kalau ada tantangan, itu hal yang sangat biasa dalam produksi sebuah film. Kami memberi kesempatan para pemain untuk berimprovisasi agar akting mereka lebih alami," ujarnya, Sabtu (11/7/2026)
Lucy menjelaskan Free Wi-Fi merupakan film layar lebar ketiga yang diproduksinya setelah Surga Tanpa Kaki Ibu dan Tommy and Jerry. Selain itu, tim produksinya juga telah menghasilkan ratusan film televisi melalui program Bioskop Indonesia di Trans TV.
"Film layar lebar kami dimulai dari Surga di Telapak Kaki Ibu, kemudian Tommy and Jerry, dan sekarang Free Wi-Fi. Di luar itu ada ratusan produksi untuk Bioskop Indonesia," katanya.
Mengenai target penonton, Lucy optimistis film tersebut mampu menarik sedikitnya 100 ribu penonton di Sulawesi Utara.
"Untuk Sulawesi Utara, 100 ribu penonton sudah cukup baik," ujarnya.
Sementara itu, pemeran Amoy mengaku suasana syuting berlangsung santai karena para pemain diberi keleluasaan mengembangkan dialog tanpa terpaku sepenuhnya pada naskah.
"Ibu Lucy hanya memberi gambaran adegannya, setelah itu kami dipersilakan berimprovisasi. Karena kami pelawak, kami diberi kepercayaan untuk mengembangkan adegan agar lebih lucu," kata Amoy.
Ia menilai metode tersebut membuat para pemain tidak merasa tertekan selama proses produksi meski tetap mengikuti alur cerita yang telah ditentukan.
Di akhir sesi, Lucy mengajak masyarakat Sulawesi Utara memberikan dukungan terhadap industri perfilman daerah dengan menonton karya anak bangsa di bioskop.
"Mari mendukung film Sulawesi Utara. Membuat film itu tidak mudah, mulai dari menyusun konsep, mencari lokasi, melakukan survei hingga mengumpulkan para pemain. Semua membutuhkan proses yang panjang," ujarnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang bangga terhadap karya sineas daerah sehingga industri film di Sulawesi Utara dapat terus berkembang.
(sab)
