Notification

×

Festival Literasi Sulut Bidik Peningkatan Indeks Literasi dan Angkat Karya Penulis Lokal

3 Oktober 2026 | Oktober 03, 2026 WIB Last Updated 2026-10-03T12:56:27Z

 

Sekretaris Umum Putra Putri Literasi Sulawesi Utara, Faradila Bachmid, S.Psi., M.Si., saat menjelaskan tujuan dan rangkaian Festival Literasi Sulawesi Utara, Sabtu (3/10/2026).((Indinews.id/Subhan)).

MANADO, indinews.id – Festival Literasi Sulawesi Utara tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi pencinta buku dan pegiat literasi, tetapi juga diarahkan untuk memperoleh gambaran mengenai indeks literasi masyarakat di daerah tersebut.


Sekretaris Umum Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU), Faradila Bachmid, S.Psi., M.Si., mengatakan salah satu keluaran penting dari festival tersebut adalah data hasil observasi terhadap pengunjung dan peserta yang melakukan registrasi.


Menurutnya, para pengunjung diminta mengisi kuesioner yang menjadi salah satu instrumen untuk melihat kondisi indeks literasi di Sulawesi Utara.


“Goals besar dari Festival Literasi Sulawesi Utara itu adalah hasil observasi riset dari para pengunjung atau teman-teman yang registrasi. Di situ mereka mengisi kuesioner. Kuesioner itu adalah salah satu cara kita untuk melihat indeks literasi yang ada di Sulawesi Utara,” ujar Dila, Sabtu (3/10/2026).


Selain riset, festival tersebut dikemas dengan berbagai kegiatan yang menyasar minat generasi muda. Rangkaian acara meliputi konser, talkshow, bedah buku, sesi tanda tangan buku bersama Dee Lestari, hingga penampilan sejumlah musisi seperti K-Alien, Braga, Endah N Rhesa, dan Aditia Sofyan.


Kegiatan juga berlangsung secara paralel sejak pagi hingga malam dengan sejumlah lokasi acara, mulai dari area bazar buku, venue teater, hingga panggung utama.


Dila menjelaskan, perhatian terhadap indeks literasi menjadi penting karena tingkat literasi di Indonesia masih perlu terus ditingkatkan. Ia melihat antusiasme masyarakat, khususnya di kawasan Indonesia Timur, sebagai modal untuk mendorong perkembangan budaya literasi.


“Saya selalu menggunakan kata yang belum tinggi karena saya yakin akan terus meningkat dengan melihat antusiasme teman-teman yang ada di Indonesia Timur,” katanya.


Ia menilai kegiatan literasi tidak seharusnya hanya terpusat di Pulau Jawa atau kota-kota besar. Menurutnya, Sulawesi Utara juga memiliki potensi besar untuk menjadi ruang tumbuhnya kegiatan literasi dan sastra.


Ia menyebut penyelenggaraan festival tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Utara bersama Organisasi Putra Putri Literasi Sulawesi Utara.


Dila mengatakan, berdasarkan data yang ia ingat, indeks literasi Sulawesi Utara berada di kisaran 6,5, meski ia meminta angka tersebut dikoreksi apabila terdapat kekeliruan.


“Karena itulah yang menjadi alasan paling penting dan fundamental bagi kita untuk melaksanakan kegiatan ini,” ujarnya.


Selain mendorong peningkatan literasi, Festival Literasi Sulawesi Utara juga memberikan ruang khusus bagi penulis lokal. Salah satunya melalui kehadiran stan buku yang menampilkan karya penulis dari Sulawesi Utara, termasuk para penulis asal Bolaang Mongondow.


Menurut Dila, pemberian ruang tersebut merupakan bagian dari visi festival untuk mengangkat potensi lokal dan memperkenalkan karya penulis daerah kepada masyarakat, terutama generasi muda.


“Visi kita dari literasi ini sebenarnya sudah jelas. Kita mau mengangkat potensi lokal teman-teman yang ada di Sulawesi Utara,” katanya.


Ia menambahkan, tema besar festival, yakni “Merawat Kearifan Lokal dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban”, menjadi landasan untuk memberikan panggung lebih luas kepada penulis lokal.


“Kita mau mengangkat teman-teman penulis lokal yang ada di Sulawesi Utara itu untuk mendapatkan panggung juga karena karya-karya mereka tidak kalah hebat dan kalah penting untuk dibaca di kalangan anak muda maupun generasi yang hari ini ada di Sulawesi Utara,” ujarnya.


Melalui perpaduan antara riset, kegiatan literasi, pertunjukan seni, bazar buku, dan promosi karya penulis daerah, festival tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat ekosistem literasi sekaligus memperkenalkan kekayaan narasi lokal Sulawesi Utara.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close