Notification

×

Festival Literasi Sulut Buka Ruang bagi Penulis Lokal, Karya Sabrina Diperkenalkan Lewat Bazar Buku

3 Oktober 2026 | Oktober 03, 2026 WIB Last Updated 2026-10-03T13:04:27Z

 

Bazar buku di Festival Literasi Sulawesi Utara 2026, Sabtu (3/10/2026).((Indinews.id/Subhan))




MANADO, indinews.id – Kehadiran penulis lokal dalam Festival Literasi Sulawesi Utara mendapat sambutan positif dari kalangan pegiat sastra. Festival tersebut dinilai menjadi ruang penting untuk memperkenalkan karya penulis daerah yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.


Salah satu penulis lokal, Sabrina, mengaku senang mendapat kesempatan menampilkan karyanya dalam bazar buku yang menjadi bagian dari Festival Literasi Sulawesi Utara.


Menurutnya, cukup banyak penulis yang berkarya di Manado dan berbagai daerah di Sulawesi Utara. Namun, karya mereka belum seluruhnya mendapatkan ruang untuk diperkenalkan kepada publik.


“Iya, tentunya sangat senang sekali karena di Sulawesi Utara ini sebenarnya cukup banyak yang menulis, hanya saja memang belum terekspos,” ujar Sabrina, Sabtu (3/10/2026)


Ia menilai keberadaan festival literasi yang secara khusus mengundang penulis lokal dapat membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal karya-karya dari Sulawesi Utara.


Menurutnya, kehadiran buku-buku karya penulis lokal di stan bazar juga memungkinkan pengunjung dari luar daerah untuk mengenal karya sastra yang lahir dari Sulawesi Utara.


“Karya-karyanya dibantu untuk dipajang di bazar buku itu juga sangat membantu memperkenalkan karya-karya penulis lokal kepada masyarakat Sulawesi Utara khususnya, dan kalaupun ada pengunjung dari luar juga bisa menikmati karya-karya dari penulis Sulawesi Utara,” katanya.


Dalam festival tersebut, Sabrina menampilkan satu karya berupa kumpulan cerita pendek berjudul “Para Puan”. Buku tersebut memuat 13 cerita pendek dan dijadwalkan menjadi bahan bincang buku dalam rangkaian kegiatan festival.


“Kumpulan cerita pendek ‘Para Puan’, itu berisi 13 cerita pendek. Besok itu ada bincang bukunya juga, rencana,” ujarnya.


Bagi Sabrina, kesempatan tampil dalam festival tidak hanya membantu memperkenalkan karya kepada pembaca. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk membangun jaringan dengan sesama penulis maupun pelaku penerbitan.


Ia mengatakan, pertemuan dengan penulis lain membuka wawasan mengenai proses penerbitan buku, termasuk peluang bagi penulis daerah untuk menembus penerbit mayor.


“Merasa sangat terbantu. Jadi, bukan saja kita dibantu untuk menyampaikan karya kita kepada pembaca, tapi kita juga jadi tahu, punya kenalan penulis-penulis lain,” tuturnya.


Sabrina menjelaskan, penulis daerah memiliki tantangan tersendiri untuk masuk ke penerbit mayor. Karena itu, keberadaan penerbit independen yang turut menghadirkan karya penulis lokal dalam bazar menjadi salah satu peluang penting.


“Kalau penerbitan mayor itu kan lebih susah untuk ditembus, apalagi kalau penulis-penulis daerah kayak kami,” katanya.


Ia juga menyebut adanya kesempatan membangun relasi dengan penulis lain yang telah lebih dahulu mendapatkan perhatian dari penerbit mayor.


Salah satunya melalui pertemuannya dengan Kai Elian, penulis asal Tomohon yang turut mengisi sesi bincang buku dalam festival tersebut. Menurut Sabrina, karya Kai Elian telah dilirik oleh Gramedia Pustaka Utama, salah satu penerbit mayor.


Dari pertemuan itu, Sabrina memperoleh sejumlah masukan mengenai cara mengajukan karya ke penerbit mayor, termasuk kontak editor yang dapat dihubungi.


“Dia memberikan saran kalau mau submit untuk bisa tembus mayor seperti apa, juga memberikan kontak editornya,” ungkap Sabrina.


Menurutnya, interaksi semacam itu menunjukkan bahwa festival literasi tidak hanya menjadi tempat memamerkan buku, tetapi juga dapat menjadi ruang bertemunya penulis, pembaca, dan pelaku industri penerbitan.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close