![]() |
| Pembukaan Bulan Inklusi Keuangan 2026 di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara, Sabtu (10/10/2026).((Indinews.id/Subhan) |
MANADO, indinews.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan keuangan sekaligus memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan secara bijak.
Ajakan tersebut disampaikan dalam pembukaan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara, Sabtu (10/10/2026).
Kepala OJK SulutGo, Robert H.P. Sianipar, mengatakan perluasan akses terhadap layanan keuangan harus berjalan seiring dengan peningkatan literasi agar masyarakat tidak hanya menggunakan produk keuangan, tetapi juga memahami manfaat, risiko, serta ketentuan yang menyertainya.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan nasional mencapai 93,61 persen, meningkat dibandingkan 92,74 persen pada 2025. Capaian tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mengakses produk dan layanan keuangan formal.
Meski demikian, peningkatan akses perlu diikuti kemampuan masyarakat dalam menentukan pilihan keuangan sesuai kebutuhan. Karena itu, OJK bersama kementerian, lembaga terkait, dan industri jasa keuangan terus mendorong edukasi melalui rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan.
“Secara sederhana, BIK bertujuan agar masyarakat semakin mudah mengakses layanan keuangan, semakin rajin menabung, dan semakin paham dalam memilih produk keuangan,” ujar Robert.
Ia menjelaskan, rangkaian BIK 2026 telah dimulai sejak September dan berlanjut hingga Oktober sebagai puncak pelaksanaan. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah daerah, asosiasi, industri perbankan, pasar modal, industri keuangan nonbank, perusahaan perdagangan elektronik, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Melalui kolaborasi tersebut, OJK berharap semakin banyak masyarakat yang terdorong membuka rekening, membiasakan diri menabung, memahami hak dan kewajiban sebagai konsumen, serta menggunakan layanan keuangan secara bertanggung jawab.
Pembukaan BIK di Sulawesi Utara kali ini dikemas melalui kegiatan zumba bersama yang dilanjutkan dengan kunjungan ke Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara. Kegiatan tersebut melibatkan pelajar dan dirangkaikan dengan momentum peringatan Hari Museum Nasional 2026.
Menurut Robert, pemilihan museum sebagai lokasi kegiatan memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh pengalaman edukatif yang menggabungkan pengenalan budaya dan sejarah daerah dengan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan keuangan.
Ia berharap kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan rekreasi, tetapi juga mendorong pelajar memahami pentingnya mempersiapkan masa depan melalui kebiasaan finansial yang baik.
“Karena itu, penting bagi adik-adik untuk mulai belajar menabung, mengatur uang saku, dan mempersiapkan masa depan sejak dini,” katanya.
Robert secara khusus mengingatkan para pelajar agar membiasakan diri membedakan kebutuhan dan keinginan dalam menggunakan uang.
Menurutnya, kebiasaan menabung tidak harus menunggu seseorang memiliki penghasilan atau uang dalam jumlah besar, melainkan dapat dimulai dari menyisihkan sebagian uang saku secara konsisten.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap penawaran keuangan yang belum jelas, terutama yang berpotensi merugikan konsumen.
“Belajarlah membedakan kebutuhan dan keinginan, sisihkan sebagian uang saku untuk ditabung, dan jangan mudah tergiur oleh tawaran keuangan yang belum jelas. Tidak perlu menunggu memiliki uang banyak untuk mulai menabung. Yang paling penting adalah kebiasaan dan konsistensi,” tegas Robert.
Selain mengedukasi masyarakat dan pelajar, OJK SulutGo mengharapkan industri jasa keuangan semakin aktif memperluas kegiatan literasi dan inklusi melalui program yang mudah dijangkau serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sinergi antara OJK, pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, dan berbagai pihak terkait dinilai penting untuk memperluas akses keuangan sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.
Robert berharap momentum Bulan Inklusi Keuangan 2026 dapat membangun kebiasaan mengelola uang secara sehat di kalangan generasi muda, sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk keuangan secara tepat dan bertanggung jawab.
(sab)
