Notification

×

Perkembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon

6 Juni 2026 | Juni 06, 2026 WIB Last Updated 2026-06-06T08:43:31Z

 

Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Meski IHSG mengalami koreksi sepanjang Mei 2026, jumlah investor pasar modal nasional terus bertambah dan likuiditas perdagangan tetap terjaga. (Dok. Istimewa)



JAKARTA, indinews.id - Kinerja pasar modal Indonesia masih menghadapi tekanan sepanjang Mei 2026 akibat tingginya ketidakpastian ekonomi global dan penyesuaian strategi investasi para pelaku pasar. 


Meski demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi pasar keuangan domestik tetap menunjukkan ketahanan yang cukup baik dengan likuiditas yang terjaga.


Data OJK menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Mei 2026 ditutup di level 6.127,38 atau terkoreksi 11,92 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahun berjalan (year to date/ytd), penurunan mencapai 29,14 persen.


Meski pasar saham mengalami pelemahan, aktivitas perdagangan masih relatif tinggi. Rata-rata nilai transaksi harian meningkat menjadi Rp22,86 triliun dari Rp18,51 triliun pada April 2026. 


Sementara itu, rata-rata bid-ask spread tercatat sebesar 1,50 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 1,33 persen.


Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih di pasar saham sebesar Rp4,10 triliun selama Mei 2026. Namun nilai tersebut lebih rendah dibandingkan aksi jual bersih pada April yang mencapai Rp17,02 triliun.


Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup menguat 0,32 persen secara bulanan ke level 437,26. Namun secara kumulatif sejak awal tahun, indeks tersebut masih terkoreksi 0,81 persen.


Pada periode yang sama, rata-rata imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) meningkat 5,61 basis poin dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 56,22 basis poin secara tahunan berjalan. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh persepsi risiko investor terhadap kondisi ekonomi global yang masih bergejolak.


Investor asing juga membukukan jual bersih sebesar Rp3,70 triliun di pasar SBN selama Mei 2026. Sebaliknya, pasar obligasi korporasi mencatatkan beli bersih asing sebesar Rp0,20 triliun.


Di sektor pengelolaan investasi, nilai Asset Under Management (AUM) hingga 29 Mei 2026 mencapai Rp1.049,84 triliun. Angka ini turun 1 persen dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi masih tumbuh 0,68 persen sejak awal tahun.


Sementara itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp685,76 triliun atau turun 1,52 persen secara bulanan. Kendati demikian, secara tahun berjalan NAB masih meningkat 1,55 persen.


OJK mencatat adanya penarikan dana bersih (net redemption) reksa dana sebesar Rp1,77 triliun sepanjang Mei. 


Namun secara kumulatif sejak awal tahun, industri reksa dana masih membukukan pembelian bersih (net subscription) sebesar Rp21,61 triliun.


Di tengah volatilitas pasar, jumlah investor pasar modal nasional terus bertambah. Sepanjang Mei 2026 terdapat tambahan sekitar 1,26 juta investor baru. 


Dengan perkembangan tersebut, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 27,75 juta atau tumbuh 36,27 persen dibandingkan posisi awal tahun.


Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi OJK, Agus Firmansyah, dalam keterangan resminya yang diterima Jumat (5/6/2026), mengatakan pasar modal tetap memainkan peran strategis sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha.


Hingga Mei 2026, nilai penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal mencapai Rp68,18 triliun. Dana tersebut berasal dari satu penawaran umum perdana saham (IPO), satu penawaran umum terbatas (PUT), enam penerbitan efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS), serta 51 penawaran umum berkelanjutan EBUS.


"Pasar modal domestik terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi," ujar Agus Firmansyah.


Selain itu, terdapat 75 rencana penawaran umum yang masih berada dalam antrean (pipeline) dengan nilai indikatif mencapai Rp64,26 triliun.


Pada sektor Securities Crowdfunding (SCF), OJK mencatat penambahan lima efek baru dan dua penerbit baru selama Mei 2026 dengan total dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp11,09 miliar. Secara kumulatif, nilai penghimpunan dana melalui SCF telah mencapai Rp1,94 triliun.


Sementara itu, perkembangan pasar derivatif keuangan terus menunjukkan pertumbuhan. Sejak Januari 2025 hingga akhir Mei 2026, sebanyak 113 pihak telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK. Volume transaksi pada Mei tercatat mencapai 42.206 lot sehingga secara agregat telah mencapai 185.423 lot.


Di Bursa Karbon, sejak resmi diluncurkan pada September 2023 hingga 29 Mei 2026, jumlah pengguna jasa yang terdaftar mencapai 155 pihak. 


Total volume perdagangan karbon tercatat sebesar 1,98 juta ton setara karbon dioksida (tCO2e) dengan nilai transaksi akumulatif mencapai Rp93,76 miliar.


Dari sisi pengawasan, OJK terus memperkuat penegakan aturan dan perlindungan konsumen di sektor pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon. 


Hingga 31 Mei 2026, OJK telah menjatuhkan sanksi administratif berupa denda senilai Rp85,04 miliar kepada 97 pihak.


Selain itu, regulator juga menjatuhkan satu sanksi pencabutan izin, satu pembatalan surat tanda terdaftar, enam pembekuan izin, tujuh peringatan tertulis, dan sembilan perintah tertulis.


Untuk pelanggaran keterlambatan pelaporan, OJK mengenakan denda sebesar Rp53,90 miliar kepada 232 pihak serta menjatuhkan 66 sanksi peringatan tertulis. Sebanyak 71 peringatan tertulis lainnya diberikan atas pelanggaran nonkasus di luar keterlambatan pelaporan.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close