MANADO, indinews.id - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) optimistis perekonomian Sulut tetap mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2026.
Optimisme tersebut didukung oleh kuatnya permintaan domestik, stabilitas inflasi yang terjaga, serta prospek sektor unggulan daerah, khususnya komoditas kelapa melalui penguatan hilirisasi.
Hal itu disampaikan dalam forum penyampaian perkembangan perekonomian daerah sekaligus peluncuran Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Sulut yang juga menjadi wadah memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, instansi vertikal, akademisi, dan pelaku usaha.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulut, Purwanto menjelaskan forum tersebut merupakan bagian dari peran sebagai strategic advisor dalam memberikan asesmen kondisi ekonomi sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah.
"Forum ini diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi antara pemerintah daerah, instansi vertikal, akademisi, dan pengusaha dalam mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Sulut," ujar Purwanto, Kamis (31/7/2026).
Bank Indonesia juga menegaskan pentingnya penguatan sektor unggulan melalui peningkatan produktivitas komoditas kelapa, pengembangan hilirisasi, diversifikasi produk, hingga perluasan akses pasar agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian daerah.
Berdasarkan hasil asesmen BI, ekonomi Sulut pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,54 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.
Sementara dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ditopang sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, serta transportasi. Di sisi inflasi, Sulut mencatat inflasi sebesar 2,20 persen (yoy), meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 1,23 persen.
Meski demikian, angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
"Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi tarif listrik, emas perhiasan, dan beras. Namun penurunan harga tomat, daging babi, dan cabai rawit mampu menahan laju inflasi sehingga stabilitas harga tetap terjaga," jelasnya.
Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulut bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat langkah pengendalian melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Dalam jangka pendek, langkah tersebut diwujudkan melalui Gerakan Pangan Murah dan operasi pasar. Sementara untuk jangka menengah hingga panjang dilakukan peningkatan produktivitas komoditas penyumbang inflasi, kerja sama antardaerah, serta penerapan Good Agricultural Practices.
Bank Indonesia turut mendukung upaya tersebut melalui Program Petani Unggulan Sulut (PATUA) yang difokuskan pada peningkatan produktivitas beras, cabai, dan bawang merah.
Dari sisi perbankan, pertumbuhan kredit di Sulawesi Utara pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,6 persen (yoy) dengan rasio kredit bermasalah yang masih terjaga di level 2,64 persen.
Pertumbuhan terutama berasal dari kredit investasi yang meningkat 18,16 persen, disusul kredit konsumsi, sementara kredit modal kerja mengalami kontraksi 1,68 persen.
Pada sektor sistem pembayaran, pengelolaan uang rupiah mencatat net inflow sebesar Rp513,57 miliar seiring normalisasi kebutuhan uang tunai masyarakat setelah periode hari besar keagamaan.
Di sisi lain, transaksi pembayaran digital terus meningkat. Nominal transaksi uang elektronik tumbuh 24,25 persen, mencerminkan semakin tingginya pemanfaatan kanal pembayaran digital oleh masyarakat Sulut.
Bank Indonesia juga mencatat tingkat optimisme masyarakat masih berada pada level yang kuat. Indeks Keyakinan Konsumen tercatat sebesar 128, Indeks Ekspektasi Konsumen 146, dan Indeks Kondisi Ekonomi 110, yang seluruhnya berada di atas level optimistis.
Selain itu, Survei Kegiatan Dunia Usaha pada triwulan II 2026 menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang sebesar 35 persen, sedangkan Survei Penjualan Eceran meningkat 15,01 persen.
Dengan berbagai indikator tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sulut sepanjang 2026 berada pada kisaran 5,4 hingga 6,3 persen, sedangkan inflasi diproyeksikan tetap berada dalam target.
Sebagai langkah mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan, BI menilai hilirisasi sektor pertanian, terutama komoditas kelapa, menjadi agenda strategis.
"Kelapa memiliki peran penting dalam struktur perekonomian Sulut. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui penguatan rantai nilai dari hulu hingga pasar ekspor," ungkapnya.
BI menyebut komoditas kelapa menyumbang sekitar 38,13 persen terhadap subsektor pertanian dan peternakan.
Pengembangan diarahkan tidak hanya pada peningkatan produktivitas kebun rakyat, tetapi juga diversifikasi produk seperti minyak kelapa, virgin coconut oil (VCO), santan, dan berbagai produk turunannya.
Kinerja ekspor kelompok HS 15 yang didominasi produk kelapa juga tercatat tumbuh 5,89 persen sepanjang Januari hingga Mei 2026 dengan pangsa mencapai 73,48 persen. Tujuan utama ekspor meliputi Amerika Serikat, Tiongkok, dan Filipina.
Mengakhiri pemaparannya, Purwanto menegaskan bahwa penguatan hilirisasi komoditas unggulan daerah menjadi salah satu strategi utama untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi Sulut yang lebih inklusif, bernilai tambah, dan berkelanjutan.
(sab)
