MANADO, indinews.id - Film layar lebar Free Wi-Fi karya sineas Sulawesi Utara hadir dengan mengangkat kisah kehidupan masyarakat Kota Manado melalui cerita seorang pengemudi ojek online yang dibalut komedi, romansa, serta pesan-pesan edukatif.
Film yang mulai diproduksi sejak 2018 itu akhirnya siap tayang setelah sempat tertunda selama beberapa tahun akibat pandemi Covid-19.
Eksekutif Produser Free Wi-Fi, Lucy, mengatakan pemilihan judul film dilakukan karena masih relevan dengan kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada internet.
"Kita melihat apa yang lagi tren. Sampai sekarang ternyata masih up to date. Di mana-mana orang masih mencari free Wi-Fi. Judul itu dipilih supaya menarik perhatian penonton," ujar Lucy.
Ia menjelaskan tokoh utama dalam film merupakan seorang pengemudi ojek online di Manado. Dari karakter tersebut berkembang berbagai cerita, mulai dari kehidupan sehari-hari, kisah cinta, hingga konflik yang dibumbui komedi.
"Tokoh utamanya seorang ojek online. Kehidupannya yang dipaparkan di film ini. Kisah cintanya, komedinya, semuanya berawal dari dia," katanya.
Selain hiburan, Lucy menegaskan film tersebut juga menyisipkan berbagai pesan edukatif, seperti penggunaan gawai secara bijak bagi anak-anak hingga pentingnya berbelanja secara bijaksana melalui platform daring.
"Di dalam film ada pesan pendidikan tentang bagaimana menghadapi gadget untuk anak-anak agar digunakan untuk hal yang bermanfaat. Ada juga pesan agar lebih bijaksana dalam belanja online," ujarnya.
Lucy mengungkapkan proses syuting hanya berlangsung sekitar satu bulan pada 2018. Namun, rencana penayangan harus tertunda karena pandemi Covid-19 dan antrean film yang menunggu jadwal tayang di bioskop.
"Saat itu syuting sudah selesai dan tinggal menunggu tayang, tetapi pandemi datang. Setelah itu kami juga harus menunggu antrean karena banyak film yang belum bisa ditayangkan," katanya.
Meski demikian, menurut Lucy, kualitas produksi menjadi salah satu alasan Free Wi-Fi tetap memenuhi standar penayangan di jaringan bioskop.
"Kami menggunakan kamera Red Cam sehingga kualitas gambarnya masih sesuai dengan standar bioskop saat ini," tuturnya.
Salah satu pemeran,cAmoy, mengaku bangga bisa terlibat dalam film layar lebar pertamanya. Menurutnya, proses syuting berlangsung menyenangkan karena para pemain diberi ruang untuk berimprovisasi tanpa keluar dari alur cerita.
"Ini film pertama buat saya. Kami diberi kebebasan berimprovisasi selama tidak keluar dari jalur cerita. Itu membuat akting terasa lebih alami," ujarnya.
Ia juga mengaku mendapat pengalaman berharga karena dapat bermain bersama sejumlah komedian dan aktor senior.
"Yang utama adalah rasa bangga. Ini pengalaman yang sangat berharga bisa bermain di layar lebar bersama para senior," katanya.
Pemeran lainnya, Sule, berharap kehadiran Free Wi-Fi dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan Kota Manado melalui industri perfilman.
"Film ini mengangkat Kota Manado. Mudah-mudahan masyarakat memberikan dukungan karena ini juga menjadi bagian dari promosi pariwisata daerah," ujar Sule.
Film Free Wi-Fi dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 23 Juli 2026 dan menjadi salah satu karya perfilman lokal yang menampilkan budaya, kehidupan masyarakat, serta panorama Kota Manado.
(sab)
