MANADO, indinews.id - Film Free Wi-Fi tidak hanya mengangkat kisah komedi, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya peran guru, pendidikan, serta upaya memperkenalkan budaya dan potensi Sulawesi Utara ke tingkat nasional.
Hal itu terungkap dalam sesi diskusi bersama para pemain dan produser film menjelang penayangannya, Sabtu (11/7/2026) di MBW 2.
Salah satu pemeran, Om Kale, mengatakan film tersebut berupaya menggambarkan sosok guru bukan sekadar sebagai pengajar, melainkan juga pendidik yang memahami kondisi psikologis peserta didik.
"Guru itu mengajar, tetapi pendidik bagaimana mencoba secara psikologis melihat anak dari luar buku. Pendidikan itu luas, guru adalah profesi, tetapi area profesinya adalah pendidikan," kata Om Kale.
Menurutnya, film tersebut juga menampilkan realitas kehidupan guru yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk persoalan kesejahteraan.
"Bukan kecil peran guru dalam pendidikan. Seharusnya penghargaan terhadap guru lebih tinggi, termasuk kesejahteraannya," ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan yang ditampilkan dalam film lebih mengedepankan kasih sayang dan komunikasi dibandingkan kekerasan dalam mendidik anak.
Sementara itu, Executive Producer Free Wi-Fi, Lucy, mengungkapkan bahwa pemilihan judul film bertujuan menarik perhatian masyarakat. Namun, di balik itu terdapat misi besar untuk menyatukan para komedian dan seniman Sulawesi Utara dalam satu karya layar lebar.
"Visi saya adalah mengumpulkan komedian-komedian Sulawesi Utara supaya bisa tampil secara nasional. Film ini juga mengangkat keindahan Manado, kehidupan masyarakatnya, serta para seniman daerah," ujar Lucy.
Ia menjelaskan hampir seluruh kru dan pemain berasal dari Sulawesi Utara, mulai dari sutradara, produser, penata kamera hingga para pemeran.
"Sebanyak 95 persen pemain adalah orang Manado. Kami ingin terus mempromosikan Sulawesi Utara melalui karya film," katanya.
Pemeran Amoy juga mengaku ingin terus berkarier di dunia perfilman, tetapi tetap berharap lebih banyak produksi dilakukan di Manado.
"Kalau bisa syuting tetap di Manado. Saya ingin ikut mengangkat kota dan teman-teman di sini," ujarnya.
Senada dengan itu, Om Kale berharap masyarakat memberikan dukungan terhadap karya sineas daerah dengan menonton film tersebut di bioskop.
"Ada anak daerah yang berkarya mengangkat kehidupan masyarakat Sulawesi Utara. Bentuk penghargaan yang paling nyata adalah menonton film ini," katanya.
Ia juga berharap semakin banyak rumah produksi yang membuat film di berbagai daerah agar semakin banyak talenta lokal memperoleh kesempatan tampil di industri perfilman.
Sementara itu, Om Sule mengajak masyarakat menyukseskan penayangan perdana Free Wi-Fi. Menurutnya, keberhasilan film tersebut dapat membuka peluang lahirnya karya-karya baru dari sineas Sulawesi Utara.
"Kalau film ini sukses, mudah-mudahan akan dibuat lagi film berikutnya. Yang penting tetap rendah hati dan terus berkarya," ujar Om Sule.
(sab)
