![]() |
| LPS Media Meet Up bersama insan pers Sulawesi Utara di Manado, Kamis (23/2/10/2024).((indinews.id/Jefry). |
MANADO, indinews.id – Kemudahan transaksi digital membawa perubahan dalam kebiasaan masyarakat mengelola keuangan. Namun, di balik kepraktisan pembayaran melalui telepon genggam, terdapat risiko perilaku konsumtif yang dipicu emosi, tekanan psikologis, hingga keinginan mengikuti tren.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Media Meet Up bersama insan pers Sulawesi Utara di Frangipany Room, Hotel Sintesa Peninsula Manado, Kamis (22/10/2026).
Mengangkat tema “Diskusi, Komunikasi dan Kolaborasi Media dalam Pengembangan Literasi Keuangan”, kegiatan ini menghadirkan psikolog klinis sekaligus hipnoterapis, Hanna Monareh, yang membahas psikologi uang di tengah perkembangan teknologi digital.
Dalam pemaparannya, Hanna menjelaskan bahwa kemudahan pembayaran digital dapat membuat seseorang kurang menyadari jumlah uang yang telah dikeluarkan.
Berbeda dengan transaksi menggunakan uang tunai, pembayaran elektronik terkadang tidak memberikan sensasi kehilangan uang secara langsung.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong perilaku konsumtif apabila tidak disertai kesadaran dan kemampuan mengendalikan diri.
Hanna mengingatkan pentingnya memahami kondisi emosional sebelum memutuskan berbelanja. Menurutnya, kebiasaan membeli barang untuk mengurangi stres atau meredakan tekanan psikologis perlu dikenali agar tidak berkembang menjadi pola perilaku yang merugikan keuangan.
Ia mendorong peserta menerapkan jeda sebelum melakukan transaksi. Dengan memberikan waktu untuk berpikir, seseorang dapat mempertimbangkan apakah suatu barang memang diperlukan atau sekadar memenuhi keinginan sesaat.
Selain belanja impulsif, Hanna turut menyoroti fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari tren, informasi, atau peluang yang sedang diminati banyak orang.
Dalam aktivitas investasi digital, FOMO dapat membuat seseorang terburu-buru mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan risiko, tujuan investasi, serta kemampuan finansialnya.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak mudah mengikuti keputusan orang lain dalam menentukan pilihan keuangan. Setiap keputusan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan, perencanaan, dan pertimbangan risiko yang matang.
Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan peserta dalam berbagi pengalaman mengenai kebiasaan finansial sehari-hari.
Hanna juga memperkenalkan teknik meditasi sederhana untuk membantu peserta menenangkan pikiran dan meningkatkan kesadaran sebelum mengambil keputusan.
Sementara itu, Deputi Kepala Kantor Perwakilan LPS Wilayah III Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), Prayitno Amigoro, mengatakan Media Meet Up menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sekaligus membangun komunikasi dan kolaborasi antara LPS dan insan pers di Sulawesi Utara.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperluas pemahaman jurnalis mengenai peran LPS serta berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, termasuk aspek psikologis dalam pengelolaan keuangan.
Menurut Prayitno, kemitraan dengan media memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan informasi yang tepat sekaligus mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para jurnalis atas kerja sama yang telah terjalin dengan LPS. Prayitno berharap hubungan tersebut dapat terus dipelihara dan ditingkatkan melalui komunikasi serta kolaborasi yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, LPS mendorong peningkatan kesadaran finansial di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital.
Kemampuan mengenali emosi, mengendalikan dorongan belanja, dan mempertimbangkan risiko menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan keuangan yang sehat.
Selain bermanfaat bagi diri sendiri, pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi jurnalis dalam menyampaikan informasi edukasi keuangan yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.
(sab)
