MANADO, Indinews.id - Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Dedicated Team Meeting (DTM) Regional Investor Relations Unit (RIRU) Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat koordinasi lintas instansi dalam meningkatkan realisasi investasi di Sulut.
Kegiatan tersebut dipimpin Wakil Gubernur Sulut, Victor Mailangkay yang berlangsung di Kantor Perwakilan (KPw) BI Sulut, Kamis (21/5/2026).
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Sulut, Franciscus Manumpil, saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa realisasi investasi Sulut pada 2025 mencapai Rp10,1 triliun atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp7,4 triliun.
Menurutnya, capaian tersebut didukung berbagai strategi RIRU Sulut, mulai dari penguatan digitalisasi informasi investasi melalui website investasi, pembinaan terhadap 15 kabupaten/kota yang menghasilkan 17 proposal investasi siap tawar, hingga pelaksanaan kompetisi proyek investasi unggulan tingkat provinsi dan daerah.
"Target investasi Sulut pada 2026 meningkat menjadi Rp12,13 triliun, dengan realisasi hingga triwulan I 2026 telah mencapai sekitar 18 persen," ujar Manumpil.
Dalam pemaparannya, Kepala KPw BI Sulut, Joko Supratikto, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulut pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,54 persen secara year on year (yoy).
Meski dinilai stabil, pertumbuhan tersebut masih dapat ditingkatkan melalui penguatan ketahanan fiskal daerah, sinergi program strategis pusat dan daerah, serta peningkatan kualitas investasi.
"RIRU Sulut perlu melakukan penajaman prioritas promosi investasi pada sektor yang sejalan dengan arah kebijakan nasional dan potensi daerah," kata Joko.
Sektor tersebut meliputi hilirisasi, ketahanan pangan dan agroindustri, energi terbarukan, serta kesehatan. Selain itu, proyek investasi juga harus memiliki legalitas yang jelas dan nilai ekonomis yang mampu menarik minat investor.
Sementara itu, Kepala Kantor Bea Cukai Bitung, Didit Prayudi Sidharta, mengatakan peningkatan investasi daerah turut didukung program Direct Call Pelabuhan Bitung.
Program tersebut bertujuan memperkuat posisi Pelabuhan Bitung sebagai hub internasional kawasan Indonesia Timur, mempercepat konektivitas logistik menuju Asia Pasifik dan Tiongkok, serta menekan biaya logistik dan waktu distribusi barang dari sebelumnya satu hingga dua bulan menjadi sekitar lima sampai delapan hari.
“Hingga saat ini, program Direct Call telah terlaksana tiga kali dan direncanakan berlanjut secara berkesinambungan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Sulut Victor Mailangkay menegaskan pentingnya investasi sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia menekankan sejumlah langkah strategis, di antaranya peningkatan akses dan kemudahan perizinan melalui optimalisasi Mal Pelayanan Publik berbasis digital, penguatan peran kepala daerah dalam mempromosikan proyek melalui dokumen Investment Project Ready to Offer (IPRO), serta peningkatan kepastian hukum melalui penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) digital.
Dalam kesempatan itu, Victor juga secara resmi membuka rangkaian North Sulawesi Investment Challenge (NSIC) 2026 dan mendorong keterlibatan aktif pemerintah daerah dalam capacity building penyusunan proposal investasi serta pelaksanaan North Sulawesi Investment Forum (NSIF) 2026.
Pada akhir kegiatan, para perwakilan kepala daerah turut memaparkan proyek investasi prioritas masing-masing daerah. Acara kemudian ditutup dengan penandatanganan berita acara sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat sinergi percepatan investasi guna mendukung pertumbuhan ekonomi Sulut yang inklusif dan berkelanjutan.
Turut hadir para bupati dan wali kota se-Sulut, sekretaris daerah kabupaten/kota, Kepala DPMPTSP Sulut Hermina Syaloom D. Korompis, serta anggota RIRU tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
(sab)
