MANADO, indinews.id – Perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) masih menunjukkan daya tahan di tengah berbagai dinamika ekonomi global dan domestik. Pada triwulan II 2026, ekonomi Sulut tercatat tumbuh 5,42 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang sejumlah lapangan usaha utama, di antaranya pertanian, perdagangan, industri pengolahan, transportasi, dan konstruksi.
Bank Indonesia Sulawesi Utara terus memperkuat pemantauan kondisi ekonomi melalui berbagai instrumen survei dan komunikasi dengan pelaku usaha. Upaya tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi riil perekonomian di lapangan.
Sejumlah survei yang dilakukan antara lain Survei Penjualan Eceran, Survei Harga Properti Residensial (SHPR), dan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). BI juga melakukan liaison dengan pelaku usaha untuk menggali informasi mengenai perkembangan aktivitas ekonomi dan prospek usaha.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut, Joko Supratikto dalam acara Bincang Ekonomi : Outlook Ekonomi dan Prospek Usaha Sulawesi Utara mengatakan informasi yang diperoleh dari berbagai kegiatan tersebut menjadi bahan penting dalam penyusunan asesmen perekonomian daerah dan rekomendasi kebijakan.
“Data dan perspektif tersebut menjadi dasar bagi kebijakan yang lebih tepat waktu, tepat sasaran, kemudian juga berdampak nyata,” kata Joko Supratikto, Rabu (16/9/2026).
Sebagai strategic advisor bagi pemerintah daerah, BI Sulut secara triwulanan menyusun Laporan Perekonomian Provinsi Sulawesi Utara. Laporan tersebut digunakan untuk menyampaikan perkembangan serta prospek ekonomi daerah sekaligus mendukung perumusan kebijakan.
Dari sisi pembiayaan, sektor perbankan masih memberikan dukungan terhadap aktivitas perekonomian daerah. Hingga Juli 2026, kredit perbankan di Sulut tumbuh 3,08 persen, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 8,08 persen.
Kualitas kredit juga masih terjaga.
Rasio non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 2,77 persen atau masih berada di bawah batas 5 persen.
BI mengapresiasi perbankan dan para pelaku usaha yang dinilai turut menjaga kualitas intermediasi serta memenuhi kewajiban pembiayaan dengan baik.
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih positif, perkembangan inflasi menjadi salah satu perhatian utama.
Hingga Agustus 2026, inflasi kumulatif Sulawesi Utara tercatat 3,68 persen secara year-to-date (ytd).
Capaian tersebut berada di atas batas atas sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 persen, dari target 2,5 persen dengan toleransi plus-minus 1 persen.
Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian harga perlu terus diperkuat, khususnya melalui pengamanan pasokan, kelancaran distribusi, dan koordinasi antarpemangku kepentingan.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah cabai atau rica. Komoditas tersebut memberikan andil sekitar 0,33 persen terhadap inflasi Sulut.
Untuk menjaga keseimbangan harga, intervensi telah dilakukan di sejumlah pasar di Manado, Minahasa Utara, dan Minahasa Selatan.
Intervensi tersebut diarahkan agar harga cabai tetap memberikan keuntungan bagi petani, tetapi tidak membebani masyarakat sebagai konsumen.
“Jadi harganya itu masih menguntungkan dari sisi petani, tetapi juga masih terjangkau untuk konsumen,” ujarnya.
Selain memantau indikator makroekonomi, BI juga menggunakan survei untuk menangkap perubahan ekonomi di tingkat mikro. Hal ini penting karena perubahan permintaan, harga, aktivitas usaha, hingga kondisi pembiayaan dapat berlangsung dalam waktu singkat.
Hasil Survei Penjualan Eceran menunjukkan aktivitas ritel di Kota Manado masih tumbuh positif. Pada Juli 2026, indeks penjualan riil mencapai 191,3 atau tumbuh 6,1 persen secara bulanan dan 24,7 persen secara tahunan. Data tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat masih relatif kuat.
Sementara itu, indikator ekspektasi harga juga menunjukkan adanya optimisme terhadap perkembangan harga hingga akhir tahun. Indeks ekspektasi harga tiga bulan mendatang pada September tercatat 145,8, dibandingkan sebelumnya 154,2.
Untuk ekspektasi enam bulan mendatang atau Desember 2026, indeks berada di level 179,2.
Meski demikian, BI mengingatkan bahwa tekanan terhadap harga masih dapat berubah sewaktu-waktu.
Faktor cuaca dan kondisi El Nino menjadi salah satu risiko yang perlu diantisipasi karena berpotensi memengaruhi produksi serta ketersediaan komoditas pangan.
“Dinamika perubahan itu bisa terjadi di setiap saat. Apalagi kita masih mengalami musim panas El Nino yang ekstrem yang diperkirakan juga akan masih terjadi sampai dengan akhir tahun ini,” katanya.
Karena itu, penguatan sinergi antara BI, pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai penting. Koordinasi tersebut dilakukan antara lain melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Transaksi Daerah (TP2DD), Regional Investor Relation Unit (RIRU), serta berbagai forum lainnya.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mempercepat respons terhadap perubahan kondisi ekonomi sekaligus menjaga pertumbuhan, stabilitas harga, dan daya beli masyarakat di Sulut.
(sab)
