Notification

×

TPID Sulut Datangkan 2,4 Ton Cabai, Pasokan Tambahan Disalurkan ke Sejumlah Pasar

15 September 2026 | September 15, 2026 WIB Last Updated 2026-09-15T02:17:32Z

 

TPID Sulawesi Utara bersama sejumlah pihak menyiapkan distribusi 2,4 ton cabai dari Probolinggo untuk menambah pasokan di wilayah Manado dan sejumlah kabupaten di Sulut.(Dok. Yaya Piri)

MANADO, indinews.id – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) bersama TPID Kota Manado mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas harga cabai di tengah tingginya tekanan inflasi.


Sebanyak 2,4 ton cabai didatangkan dari Probolinggo, Jawa Timur, melalui Surabaya, dan tiba di Sulut pada malam hari. Pasokan tersebut kemudian dibagi untuk memenuhi kebutuhan di sejumlah wilayah.


Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut, Joko Supratikto mengatakan, langkah tersebut dilakukan karena cabai menjadi salah satu komoditas yang memberikan tekanan cukup besar terhadap inflasi Sulut.


"Kalau kita lihat yang di bulan lalu menurut rilis BPS, ini sudah 3,68 persen. Lebih tinggi daripada target sasaran inflasi yang 3,5 persen," ujarnya, Selasa (15/9/2026).


Dari sejumlah komoditas penyumbang inflasi, cabai memiliki andil sekitar 0,33 persen. Tingginya pengaruh cabai tidak terlepas dari tingkat konsumsi masyarakat Sulut yang relatif tinggi.


"Kalau dilihat dari perbandingan dengan nasional, rata-rata mungkin sekitar dua sampai tiga kali per orang dari konsumsi nasional. Jadi memang sangat tinggi," katanya.


Di sisi lain, produksi cabai dari dalam Sulut belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut membuat daerah ini masih bergantung pada pasokan dari wilayah lain, termasuk Gorontalo.


TPID kemudian mencari sumber pasokan tambahan dengan mempertimbangkan jenis cabai yang sesuai dengan selera masyarakat Sulut. Hasil pembahasan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Satgas Pangan menunjukkan masyarakat cenderung menyukai cabai dengan tingkat kepedasan yang setara dengan cabai asal Gorontalo.


"Preferensi masyarakat terhadap cabai ini adalah cabai yang pedasnya setara dengan Gorontalo. Oleh karena itu kami mencari pasokan yang sama dengan itu," ujarnya.


Pasokan akhirnya diperoleh dari Probolinggo. Cabai dikirim melalui Surabaya sebelum tiba di Sulawesi Utara dengan total 2,4 ton.


Meski jumlah tersebut belum mencukupi kebutuhan daerah, TPID menyebut pengiriman ini sebagai langkah awal untuk menambah pasokan dalam jangka pendek.


"Memang tidak cukup 2,4 ton, tapi ini adalah awal. Langkah awal kita, langkah awal bahwa ini adalah jangka pendek untuk mencoba menyeimbangkan pasokan yang ada di sini," katanya.


Pasokan cabai tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan hasil produksi petani Sulut. Penambahan dari luar daerah dilakukan untuk menjaga keseimbangan pasokan sehingga harga di tingkat konsumen dapat lebih terkendali.


"Ini bukan menggantikan produk yang dihasilkan oleh Sulawesi Utara, tetapi kita mencoba menyeimbangkan antara pasokan yang ada sekarang supaya merata," ujarnya.


Sebanyak 2,4 ton cabai selanjutnya didistribusikan ke sejumlah lokasi, termasuk Kota Manado, Minahasa Utara, dan Minahasa Selatan. Untuk wilayah Manado, pasokan antara lain diarahkan ke Pasar Bersehati dan Pasar Karombasan.


Kegiatan tersebut turut melibatkan unsur TPID Provinsi Sulut dan Kota Manado, Badan Pusat Statistik (BPS), serta Satgas Pangan. Sinergi lintas instansi diperlukan untuk memastikan tambahan pasokan dapat membantu menjaga ketersediaan cabai dan mengendalikan tekanan inflasi.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close