JAKARTA, indinews.id - Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengajak insan pers memperkuat peran edukasi kepada masyarakat, terutama dalam menjelaskan kebijakan moneter, perkembangan ekonomi, serta berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga menjelang akhir tahun.
Peran media dinilai penting untuk membantu masyarakat memahami kondisi ekonomi secara utuh, termasuk dampak fenomena El Niño yang berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga sejumlah komoditas pangan.
Suharno Manik selaku Kepala Tim Implementasi KEKDA KPw BI Sulut menekankan bahwa kebijakan ekonomi tidak cukup hanya dijelaskan melalui istilah teknis. Informasi tersebut perlu diterjemahkan menjadi bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
“Di sinilah peran teman-teman media untuk bisa menerjemahkan ke masyarakat di Sulawesi Utara,” ujarnya di hadapan 19 jurnalis yang mengikuti Capacity Building BI Sulut 2026, Kamis (22/10/2026).
Menurut dia, tantangan ekonomi menjelang akhir tahun perlu mendapat perhatian bersama. Salah satu faktor yang disoroti adalah fenomena El Niño yang dampaknya diperkirakan masih dirasakan hingga Januari.
Pengalaman bertugas di Bangka Belitung menjadi salah satu pembanding dalam memahami persoalan distribusi dan harga barang.
Wilayah tersebut menghadapi tantangan logistik karena kondisi perairan yang dangkal sehingga kapal berukuran besar sulit berlabuh. Akibatnya, kapasitas angkut barang terbatas dan biaya distribusi menjadi lebih mahal.
Sementara itu, Sulut memiliki akses jalur darat yang terhubung dengan Provinsi Gorontalo. Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta menghilangkan tantangan pasokan dan harga pangan, terutama ketika permintaan meningkat.
Momentum Natal dan Tahun Baru juga menjadi perhatian karena berpotensi mendorong kenaikan konsumsi masyarakat. Di Manado, cabai yang akrab disebut rica merupakan salah satu komoditas yang banyak digunakan dalam kebutuhan rumah tangga.
Peningkatan permintaan menjelang perayaan hari besar keagamaan perlu diantisipasi agar tidak menambah tekanan terhadap harga pangan.
Karena itu, Bank Indonesia terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi tersebut. Di sisi lain, masyarakat diharapkan memperoleh informasi yang memadai agar dapat memahami situasi dan mengambil keputusan secara bijak.
“Media tidak berusaha menyembunyikan sesuatu, tetapi literasinya yang lebih baik, edukasinya yang lebih baik,” katanya.
Ia menegaskan, pemberitaan yang informatif dan edukatif dapat membantu masyarakat mengenali kondisi ekonomi sekaligus memahami faktor-faktor yang memengaruhi perubahan harga barang kebutuhan pokok.
Selain membahas tantangan ekonomi, ia juga berharap hubungan kerja sama dengan insan pers di Sulawesi Utara dapat terus diperkuat pada tahun mendatang.
Meski baru beberapa bulan berada di Manado, ia mengaku masih perlu mengenal lebih jauh karakteristik wilayah Sulawesi Utara serta para pelaku media yang selama ini menjadi mitra kerja.
Ia menyampaikan harapan agar komunikasi dan diskusi antara Bank Indonesia dan insan pers dapat berlangsung lebih intensif, sehingga berbagai informasi mengenai kebijakan ekonomi, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta data statistik dapat disampaikan secara lebih luas kepada masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memperkenalkan sejumlah anggota tim yang menangani bidang hubungan masyarakat, pengembangan UMKM, dan statistik.
Di antranya Chandra Agusta selaku Kepala Unit Kehumasan KPw BI Sulut dan Christian Elric Koba sebagai Asisten Analis Unit Kehumasan KPw BI Sulut.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pengumuman peserta terbaik yang telah melalui proses penilaian bersama dewan juri. Penilaian tersebut melibatkan juri dari media nasional, termasuk Tempo dan Garuda TV.
Kegiatan itu sekaligus menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara Bank Indonesia dan insan pers, terutama dalam mendukung penyebaran informasi ekonomi yang akurat, berimbang, dan mudah dipahami masyarakat.
(sab)
