Notification

×

PGE Dorong Sulut Jadi Etalase Panas Bumi Dunia Lewat Kemitraan dengan Selandia Baru

14 Februari 2026 | Februari 14, 2026 WIB Last Updated 2026-02-14T01:12:26Z

 

Seminar penjajakan kerja sama sister city antara Sulawesi Utara dan Selandia Baru yang dihadiri manajemen PGE dan pejabat terkait di Kantor Gubernur Sulut (Foto: Istimewa)



MANADO, indinews.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyatakan dukungannya agar Sulawesi Utara (Sulut) menjadi etalase pengembangan panas bumi kelas dunia melalui kolaborasi strategis dengan Selandia Baru. 


Komitmen tersebut disampaikan dalam seminar dan penjajakan kerja sama sister city antara Pemerintah Provinsi Sulut dan Pemerintah Selandia Baru yang digelar di Kantor Gubernur Sulut.


Sulut dan Selandia Baru dinilai memiliki sejumlah kesamaan, mulai dari potensi panas bumi yang besar, kekuatan sektor pariwisata dan pertanian, hingga karakter budaya yang kuat. 


Kesamaan ini menjadi landasan bagi penguatan kerja sama teknis, pertukaran pengetahuan, serta penciptaan nilai tambah ekonomi berkelanjutan di kedua wilayah.


Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menyebut Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lahendong di Kota Tomohon sebagai salah satu contoh kontribusi nyata energi panas bumi bagi pembangunan daerah.


"Ini menjadi modal penting bagi daerah untuk mengembangkan program pembangunan berkelanjutan,” kata Ahmad Yani dalam keterangan resminya yang diterima, Sabtu (14/2/2026).


Menurutnya, pemanfaatan panas bumi tidak sebatas menghasilkan listrik ramah lingkungan. PGE juga mendorong pengembangan direct use dan rantai bisnis turunan untuk menciptakan sumber pendapatan baru.


“Ketika bicara pengembangan pendapatan baru dan terciptanya nilai tambah dari panas bumi ini, kita tidak hanya berbicara menghasilkan listrik bersih, tapi juga mengembangkan potensi rantai nilai panas bumi," jelasnya.


Ia menambahkan, PGE telah menjalankan sejumlah proyek percontohan pemanfaatan langsung di Lahendong dan optimistis kemitraan sister city ini dapat menjadi model kerja sama lintas negara di tingkat daerah.


"Kami optimistis inisiatif sister city ini dapat menjadi role model kerja sama lintas negara di tingkat daerah, khususnya dalam pengembangan panas bumi dan ekonomi hijau,” tambahnya.


Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, H.E. Phillip Taula, turut menyoroti besarnya potensi Lahendong dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Sulut.


“Potensi panas bumi di Lahendong merupakan aset strategis yang luar biasa. Kami mendukung pengembangan panas bumi di Lahendong melalui kerja sama teknis, peningkatan kapasitas, serta pertukaran pengetahuan antara institusi riset, universitas, dan sektor industri," ujarnya.


Komitmen serupa disampaikan Pemerintah Provinsi Sulut yang diwakili Pelaksana Harian Sekretaris Daerah, Dr. Denny Mangala.


“Melalui program ini, kami berharap terjadi transfer pengetahuan dan teknologi yang konkret, peningkatan kapasitas SDM, serta terbukanya peluang investasi baru yang saling menguntungkan bagi kedua negara,” katanya.


Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, juga mendorong Sulut menjadi pelopor pengembangan energi hijau nasional.


“Kita ingin memaksimalkan pemanfaatan panas bumi, tidak hanya untuk listrik, tetapi juga untuk kesejahteraan. Kemitraan dengan Selandia Baru ini diharapkan menghasilkan rencana aksi yang konkret, sehingga Sulawesi Utara dapat menjadi provinsi terdepan dalam pembangunan hijau menuju the greenest electricity,” ujarnya.


Saat ini, PGE Area Lahendong mengoperasikan enam Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan total kapasitas 120 megawatt atau sekitar 24 persen kebutuhan listrik Sulut. Operasi tersebut berkontribusi terhadap potensi pengurangan emisi hingga 624.000 ton karbon dioksida per tahun. PGE juga tengah mengembangkan Unit 7 dan 8 berkapasitas masing-masing 20 megawatt serta binary unit 15 megawatt.


Dalam rangkaian kunjungan, rombongan Duta Besar Selandia Baru turut meninjau Pabrik Gula Aren Masarang di Tomohon dan Lao-Lao Geopark untuk melihat pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan, termasuk mendukung produksi gula aren ramah lingkungan dan pengembangan wisata edukatif berbasis energi terbarukan.


Melalui kolaborasi ini, PGE menegaskan perannya sebagai pusat unggulan panas bumi dengan fokus pada optimalisasi pembangkit, inovasi teknologi, dan penciptaan nilai tambah berkelanjutan bagi daerah.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close