Notification

×

Literasi Keuangan Sulut Lampaui Nasional, Pegadaian Bidik Perluasan Ekosistem Emas

19 Agustus 2026 | Agustus 19, 2026 WIB Last Updated 2026-08-22T11:50:46Z

 

Solusi Finansial - Nasabah bertransaksi di outlet Pegadaian Manado Utara. Gadai menjadi produk layanan Pegadaian yang menjadi solusi finansial bagi masyarakat.(Dok.Istimewa)

MANADO, indinews.id - Tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Sulawesi Utara pada 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan angka nasional.


Kondisi ini dinilai menjadi peluang bagi industri jasa keuangan untuk memperluas edukasi sekaligus mendorong pemanfaatan produk keuangan secara lebih bijak.


Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 tersebut disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulutgo bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara di Aula Kantor BPS Sulut, Jalan 17 Agustus, Manado, Rabu (19/8/2026).


Berdasarkan hasil survei, indeks literasi keuangan masyarakat Sulawesi Utara mencapai 69,98 persen. Angka ini berada di atas indeks literasi keuangan nasional yang tercatat 69,57 persen.


Sementara itu, indeks inklusi keuangan Sulawesi Utara mencapai 94,37 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 93,61 persen.


Temuan lain dalam survei tersebut menunjukkan tingkat literasi dan inklusi keuangan perempuan di Sulawesi Utara lebih tinggi dibandingkan laki-laki.


Kondisi ini dinilai sejalan dengan karakteristik nasabah PT Pegadaian Kanwil V Suluttenggo Maluku Papua yang didominasi perempuan.


Deputi Operasional Pegadaian Suluttenggo Maluku Papua, Andy Novriza, mengatakan hasil survei menunjukkan semakin banyak masyarakat Sulawesi Utara yang mengenal sekaligus menggunakan produk dan layanan lembaga jasa keuangan.


"Pegadaian sebagai salah satu Lembaga Jasa Keuangan terus berkomitmen mendorong literasi dan inklusi di tengah masyarakat," kata Andy, Rabu (19/8/2026).


Menurut Andy, peningkatan indeks tersebut menjadi sinyal positif bagi Pegadaian untuk memperluas ekosistem emas di Sulawesi Utara.


Namun, ia mengingatkan masih terdapat kesenjangan antara tingkat inklusi dan literasi keuangan. Tingginya akses terhadap layanan keuangan belum selalu diikuti pemahaman yang memadai mengenai manfaat, risiko, serta cara penggunaan produk.


"Artinya kita perlu terus mengedukasi masyarakat sehingga bisa punya pemahaman komprehensif terhadap produk yang mereka gunakan," ujarnya.


Andy menilai edukasi menjadi bagian penting agar masyarakat tidak sekadar menggunakan produk keuangan, tetapi juga mampu menentukan pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan.


"Literasi penting agar nasabah bisa memanfaatkan produk dan layanan secara bijaksana sesuai kebutuhan," katanya.


Untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat, Pegadaian Kanwil V terus mengembangkan layanan berbasis emas, termasuk menyasar generasi muda.


Ekosistem tersebut mencakup berbagai solusi keuangan, seperti produk gadai dan pembiayaan mikro. Pegadaian juga menawarkan produk investasi, di antaranya Tabungan Emas, cicil emas, hingga deposito emas.


Sementara itu, Kepala OJK Sulutgo, Robert HP Sianipar, mengatakan hasil SNLIK 2026 memiliki arti penting dalam penyusunan kebijakan peningkatan literasi dan inklusi keuangan di daerah.


"Untuk pertama kalinya, SNLIK memotret hingga ke tingkat provinsi. Ini artinya indeks semakin presisi dan lebih akurat," kata Robert.


Menurut dia, meskipun pengukuran SNLIK di tingkat provinsi baru dilakukan pertama kali, hasil tersebut dapat menjadi gambaran perkembangan literasi dan inklusi keuangan masyarakat Sulawesi Utara.


Secara nasional, indeks literasi keuangan 2026 tercatat 69,57 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 93,61 persen. Kedua indikator tersebut meningkat dibandingkan hasil SNLIK 2025, ketika indeks literasi berada di angka 66,64 persen dan inklusi keuangan 92,74 persen.


Robert mengatakan hasil SNLIK Sulawesi Utara akan menjadi salah satu rujukan dalam menentukan kebijakan pengembangan literasi dan inklusi keuangan pada masa mendatang.


Upaya tersebut dinilai penting karena karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan membuat peningkatan akses dan pemahaman terhadap layanan keuangan menghadapi tantangan yang tidak sama di setiap daerah.


Selain persoalan literasi, OJK juga masih menghadapi tantangan berupa maraknya aktivitas keuangan ilegal yang memanfaatkan perkembangan teknologi digital.


"Keuangan ilegal ini memang jadi tantangan juga sebab banyak yang ditindak Satgas Pasti, ditutup, dibuat baru lagi. Mereka mudah karena teknologi digital," jelas Robert.


Karena itu, peningkatan literasi keuangan tidak hanya diarahkan agar masyarakat semakin mudah mengakses layanan keuangan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengenali risiko dan menghindari tawaran layanan keuangan ilegal.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close