Notification

×

Panas Bumi Lahendong Sumbang 26 Persen Pasokan Listrik Sulutgo, PGE Siapkan Ekspansi 80 MW

31 Oktober 2026 | Oktober 31, 2026 WIB Last Updated 2026-10-31T11:03:10Z

 

PGE Area Lahendong di wilayah Tomohon dan Minahasa, Sulawesi Utara, Sabtu (31/10/2026).((Dok. PGE Lahendong))


TOMOHON, indinews.id – Energi panas bumi dari wilayah Lahendong menjadi salah satu penopang penting sistem kelistrikan Sulawesi Utara dan Gorontalo (Sulutgo). 


PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lahendong mencatat kontribusi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) mencapai sekitar 26 persen dari bauran listrik saat beban puncak.


Kontribusi tersebut ditopang enam unit PLTP dengan kapasitas terpasang mencapai 120 megawatt (MW). Pembangkit ini beroperasi di wilayah kerja panas bumi seluas 106.800 hektare yang mencakup Kabupaten Minahasa dan Kota Tomohon.


Budi Wigiarto selaku Manager Maintenance bersama Tim Government and Public Relations (GPR) Area menyebut bahwa sejak memulai operasi komersial pada 2001, pengembangan panas bumi Lahendong terus menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan energi di Sulawesi Utara. 


"Keberadaan pembangkit ini juga mendukung penyediaan listrik yang lebih stabil karena panas bumi dapat dioperasikan secara berkelanjutan sebagai sumber energi beban dasar atau baseload," kata Budi, Sabtu (30/10/2026).


Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat, panas bumi memiliki posisi strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Selain menjaga keandalan pasokan listrik, pemanfaatannya turut memberikan manfaat bagi lingkungan.


Berdasarkan data pengembangan PGE Area Lahendong, operasional pembangkit tersebut berpotensi mengurangi emisi karbon hingga 624.000 ton CO2 setiap tahun. 


Kapasitas listrik yang tersedia juga diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan lebih dari 133.300 rumah tangga.


Dari sisi energi, pemanfaatan panas bumi berpotensi menghemat penggunaan bahan bakar migas setara 5.676 barel minyak per hari.


PGE Bidik Tambahan Kapasitas 80 MW


Tidak berhenti pada enam unit pembangkit yang telah beroperasi, PGE Area Lahendong juga menyiapkan pengembangan kapasitas baru hingga 80 MW.


Rencana ekspansi tersebut mencakup pembangunan dua unit pembangkit konvensional dengan kapasitas masing-masing 20 MW. 


Sementara 40 MW lainnya akan dikembangkan melalui teknologi Organic Rankine Cycle (ORC) dan pembangkit listrik bertekanan rendah.


"Pengembangan ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan potensi panas bumi sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap kebutuhan energi," tutur Budi.


PGE juga mengarahkan pengembangan bisnis melalui konsep Beyond Energy. Pendekatan tersebut menempatkan panas bumi bukan hanya sebagai sumber pembangkit listrik, melainkan juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ekonomi.


Sektor pertanian dan pariwisata menjadi dua bidang yang memiliki peluang untuk dikembangkan. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan energi panas bumi dalam proses pengolahan gula aren Masarang.


Potensi lainnya mencakup pengembangan wisata panas bumi atau geotourism serta produk ramah lingkungan. Bahkan, PGE mulai menjajaki peluang pengembangan hidrogen hijau (green hydrogen) dan pusat data ramah lingkungan (green data center).


Konservasi Yaki hingga Pengembangan UMKM

Konservasi satwa endemik yaki yang mendapatkan perhatian dalam upaya konservasi PGE Area Lahendong, Kamis (1/10/2026).((Dok.PGE Lahendong))


Di tengah pengembangan energi, perhatian terhadap masyarakat sekitar wilayah operasional juga menjadi bagian dari kegiatan PGE Area Lahendong.


Sejumlah program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) dijalankan dengan menyentuh aspek ekonomi, keterampilan masyarakat, dan pelestarian lingkungan.


Program tersebut meliputi konservasi satwa endemik yaki, pelatihan barista, budidaya bunga krisan, pengelolaan bank sampah, serta pengembangan furnitur ramah lingkungan atau eco-furniture.


PGE juga mendukung kegiatan pengolahan gula aren dan pengembangan pupuk silika sebagai bagian dari upaya mendorong pemanfaatan potensi lokal.


Yaki, monyet endemik Sulawesi yang berstatus Critically Endangered (CR) dan termasuk satwa dilindungi, menjadi salah satu satwa yang mendapatkan perhatian dalam upaya konservasi PGE Area Lahendong. 


Berdasarkan hasil survei dan pengamatan lapangan, tercatat keberadaan 9 individu monyet Yaki yang selanjutnya masuk ke tahap habituasi di Hutan Rurukan sebelum dilakukan pelepasliaran.


Upaya konservasi Yaki juga dilakukan melalui program Lestari Manimpang: Dengan ‘Mapalus’ Torang Lestarikan dan Lindungi Monyet Yaki. Berdasarkan data program, tercatat keberadaan lima individu Yaki pada area sekitar 6,94 hektare.


Selain perlindungan fauna, PGE Area Lahendong mengembangkan SEGARIS PELANGI – Strategi Pengembangan Industri Gula Aren Berbasis Agroforestri dan Pemanfaatan Langsung Panas Bumi. 


Program ini mengembangkan tanaman aren dengan pendekatan agroforestri, dengan tetap mempertahankan naungan dan vegetasi alami hutan sehingga pemanfaatan lahan dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.

Pengembangan Industri Gula Aren Berbasis Agroforestri dan Pemanfaatan Langsung Panas Bumi yang dikembangkan PGE Area Lahendong, Kamis (1/10/2026).((Dok.PGE Lahendong))


Dalam data Dokumen Ringkasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan (DRKPL), program SEGARIS PELANGI mencatat 789 individu tanaman aren pada area seluas 6,7 hektare. 


General Manager PGE Area Lahendong Yanuaris Dwi Cahyono mengatakan bahwa konservasi di wilayah operasi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ekosistem setempat serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan.


“Konservasi di wilayah Lahendong kami lakukan dengan melihat kondisi lingkungan dan potensi yang ada di sekitar wilayah operasi.Kami terus mendorong kolaborasi degan berbagai pihak agar upaya perlindungan ekosistem dan satwa dapat berjalan berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Yanuaris.


Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan bahwa pengembangan panas bumi perlu berjalan berdampingan dengan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.


“Pengembangan panas bumi perlu melihat konteks ekologis dan sosial di setiap wilayah operasi. Bagi PGE, keberlanjutan merupakan bagian dari bagaimana kami menjalankan operasional dan mengembangkan potensi panas bumi dengan tetap memperhatikan perlindungan keanekaragaman hayati serta manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi,” kata Ahmad Yani.


Melalui berbagai inisiatif tersebut, PGE Area Lahendong terus mendorong upaya konservasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah operasi, dengan mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati,keterlibatan masyarakat, serta mengembangkan potensi ekonomi lokal.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close