![]() |
| Gubenur Sulut, Yulius Selvanus saat menghadiri talkshow Selamat Pagi Indonesia di Metro TV Jakarta, Jumat (26/6/2026). (Dok. Istimewa) |
JAKARTA, indinews.id - Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mencatat peningkatan angka harapan hidup masyarakat menjadi 74,44 tahun pada 2025. Angka tersebut naik 0,36 tahun dibandingkan periode sebelumnya dan menempatkan Sulut sebagai provinsi dengan angka harapan hidup tertinggi di wilayah Sulawesi serta masuk dalam jajaran 10 besar nasional.
Gubernur Sulut, Yulius Selvanus menyampaiakan bahwa pencapaian tersebut sebagai hasil kerja bersama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, kementerian, hingga berbagai lembaga dan organisasi masyarakat yang terlibat dalam pembangunan sumber daya manusia di daerah.
"Kami bekerja berdasarkan indikator-indikator pembangunan manusia di Sulawesi Utara. Ini bukan hasil kerja pemerintah provinsi semata, tetapi hasil kolaborasi bersama pemerintah kabupaten dan kota, kementerian, termasuk Badan Gizi Nasional dan berbagai pihak lainnya," ujar Gubenur saat menghadiri talkshow Selamat Pagi Indonesia di Metro TV Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), peningkatan angka harapan hidup tersebut berjalan seiring dengan membaiknya sejumlah indikator dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Pada sektor pendidikan, rata-rata lama sekolah masyarakat Sulut mencapai 12,7 tahun atau mendekati target nasional sebesar 13 tahun.
Sementara itu, IPM Sulut tercatat berada di angka 76,32. Kondisi tersebut turut berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penurunan tingkat kemiskinan.
"Indeks pembangunan manusia kami berada di angka 76,32 dan itu berkontribusi terhadap penurunan angka kemiskinan hingga sekitar 6,2 persen," katanya.
Pemerintah Provinsi Sulut juga sebelumnya menerima penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri atas capaian dalam penurunan prevalensi stunting dan angka kemiskinan.
Menurutnya, terdapat empat faktor utama yang menjadi fokus pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mendorong kenaikan angka harapan hidup.
Faktor pertama adalah perlindungan kesehatan melalui perluasan cakupan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Saat ini, Sulut telah mencapai status Universal Health Coverage (UHC) dengan tingkat kepesertaan JKN mencapai 99,1 persen.
Angka tersebut melampaui standar nasional yang ditetapkan sebesar 98 persen. Sementara tingkat keaktifan peserta JKN di Sulut mencapai 81,4 persen atau lebih tinggi dari standar nasional sebesar 80 persen.
"Kepesertaan JKN Sulut sudah mencapai 99,1 persen dengan tingkat keaktifan 81,4 persen. Capaian ini melampaui standar nasional sehingga perlindungan kesehatan masyarakat dapat terjaga dengan baik," ujarnya.
Faktor kedua adalah penguatan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang berdampak pada penurunan angka kemiskinan dan perbaikan kesejahteraan warga.
Selanjutnya, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, ibu menyusui, dan lanjut usia.
Upaya tersebut dilakukan melalui keterlibatan berbagai pihak mulai dari Posyandu, Puskesmas hingga organisasi kemasyarakatan di berbagai daerah.
"Kami memiliki budaya Mapalus atau gotong royong yang membuat seluruh elemen masyarakat bergerak bersama dalam memperhatikan kebutuhan gizi masyarakat. Hal ini turut memengaruhi peningkatan angka harapan hidup di Sulut," katanya.
Gubernur Yulius menegaskan bahwa seluruh program pembangunan daerah akan terus mengacu pada data statistik sebagai dasar penyusunan kebijakan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Angka-angka ini menjadi tolok ukur kami dalam bekerja. Dari data tersebut kami mengetahui program apa yang perlu diperkuat agar benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat," tuturnya.
(sab)
