![]() |
| Media Update Triwulan III Kantor OJK SulutGo di Kantor BPS Sulut, Rabu (19/8/2026).((Indinews.id/Subhan)). |
MANADO, indinews.id - Bank Indonesia Sulawesi Utara memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pembinaan petani dan pelaku usaha agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital.
Program tersebut diwujudkan melalui dua program unggulan, yakni Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (WANUA) dan Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA).
Melalui program PATUA, Bank Indonesia telah membina 84 kelompok petani yang tersebar di 15 kabupaten/kota di Sulawesi Utara.
Komoditas yang dikembangkan meliputi cabai, tomat, padi, dan jagung. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas petani, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan pengendalian inflasi dari kelompok volatile food.
Sementara itu, program WANUA telah menjangkau 144 pelaku usaha yang tersebar di 13 kabupaten/kota.
Kota Manado menjadi daerah dengan jumlah peserta WANUA terbanyak, yakni 77 pelaku usaha. Selanjutnya terdapat pelaku usaha dari Minahasa Utara dan Kota Bitung.
Sektor usaha yang dominan dalam program tersebut adalah makanan, kemudian kerajinan tangan, kopi, dan fesyen.
Kepala Tim Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, dan Implementasi Kebijakan Makroprudensial (SP PUR) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara Ircham Andrianto Taufick mengatakan, Bank Indonesia menjalankan pembinaan dengan pendekatan seleksi, pengembangan kapasitas, penguatan jejaring ekosistem, hingga peningkatan skala usaha.
Pelaku usaha dan petani tidak hanya diberikan pelatihan, tetapi juga diarahkan untuk masuk ke ekosistem digital, memperoleh akses pasar, mengikuti business matching, hingga memiliki peluang menembus pasar ekspor.
"Program ini dirancang untuk mengantar para pelaku usaha dan juga para petani untuk naik kelas sehingga menuju digitalisasi, profesionalisasi, dan juga berorientasi ekspor," ujar Ircham pada Media Update Triwulan III Kantor OJK SulutGo di Kantor BPS Sulut, Rabu (19/8/2026).
Upaya tersebut merupakan bagian dari strategi Bank Indonesia dalam memperkuat ekonomi inklusif. Pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu pilar penting bersama perluasan akses dan literasi keuangan serta harmonisasi kebijakan.
Bank Indonesia juga menjalankan program pengembangan UMKM dan ekonomi syariah secara nasional, termasuk digital farming, digitalisasi pembayaran, serta penguatan halal center di daerah.
Di Sulawesi Utara, digitalisasi pembayaran menjadi salah satu instrumen pendukung agar pelaku usaha yang telah dibina dapat memperluas akses pasar.
Hingga 30 Juni 2026, sebanyak 387.182 merchant di Sulawesi Utara telah menggunakan QRIS. Lebih dari 90 persen di antaranya merupakan UMKM.
"Jadi, QRIS sebagai informasi ini sudah terkoneksi dengan 6 negara. Ada 6 negara yaitu Thailand, Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan juga Tiongkok/China," katanya.
Dengan terhubungnya QRIS dengan sejumlah negara, pelaku UMKM di Sulawesi Utara berpeluang melayani transaksi wisatawan asing secara lebih mudah tanpa harus menyediakan mekanisme pembayaran tunai dalam mata uang asing.
Bank Indonesia menilai transformasi ekonomi tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, perbankan, lembaga keuangan, pelaku industri, akademisi, dan organisasi masyarakat menjadi bagian penting dalam memperluas dampak program.
Penguatan ekonomi berbasis masyarakat diharapkan mampu meningkatkan kemandirian kelompok usaha dan petani sekaligus membuka peluang mereka untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
(sab)
