Notification

×

Literasi Keuangan Sulut Capai 69,98 Persen, OJK Siapkan Strategi Edukasi

19 Agustus 2026 | Agustus 19, 2026 WIB Last Updated 2026-08-19T15:18:49Z

 

Kepala OJK SulutGo, Robert H Sianipar saat pemaparan pada Media Update Triwulan III Kantor OJK SulutGo, Rabu (19/8/2026).

MANADO, indinews.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) menyiapkan strategi edukasi keuangan dengan mengacu pada hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK).


Hasil survei menunjukkan indeks literasi keuangan Sulawesi Utara mencapai 69,98 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan indeks literasi keuangan nasional yang berada di level 65,57 persen.


Sementara itu, indeks inklusi keuangan Sulawesi Utara mencapai 94,37 persen, sedangkan angka nasional tercatat 93,61 persen.


Capaian tersebut menjadi salah satu dasar OJK dalam menentukan kelompok masyarakat yang akan menjadi sasaran prioritas program edukasi keuangan.


Strategi tersebut merupakan bagian dari amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), yang mendorong sinergi pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK dalam menyusun strategi literasi dan inklusi keuangan berkelanjutan.


"Kita perlu membuat arah dan strategi literasi inklusi keuangan. Tentunya sumber daya kita terbatas, baik dari anggaran, SDM, dan seterusnya. Tantangan kita bagaimana memaksimalkan sinergi ini," ujar Kepala OJK SulutGo, Robert H Sianipar, pada Media Update Triwulan III Kantor OJK SulutGo, Rabu (19/8/2026).


OJK melakukan pemetaan berdasarkan jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, kelompok usia, pekerjaan, dan tingkat pendidikan. Hasil pemetaan tersebut digunakan untuk menentukan pendekatan edukasi yang lebih sesuai dengan karakteristik masyarakat.


Petani, nelayan, pelajar, mahasiswa, pekerja sektor perkebunan, serta masyarakat yang belum bekerja menjadi beberapa kelompok yang diprioritaskan dalam program edukasi.


Untuk kelompok pelajar, OJK mendorong agar pemahaman mengenai pengelolaan keuangan diberikan sejak pendidikan dasar. Penguatan kapasitas guru melalui Training of Trainers (ToT) juga dinilai penting agar materi keuangan dapat disampaikan secara efektif kepada siswa.


"Jadi pendidikan keuangan sejak dini sudah masuk di kurikulum. Tapi nanti tentu kami memandang perlu untuk gurunya. Kita ToT supaya bagaimana menyampaikan materi-materi ini supaya lebih dipahami oleh anak murid di segmen SD dan SMP," katanya.


Program edukasi juga diperkuat melalui kerja sama dengan perguruan tinggi. Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang dinilai penting untuk mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan penggunaan layanan keuangan secara bijak.


OJK menilai pencapaian indeks literasi dan inklusi keuangan tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas pemahaman masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap produk keuangan, tetapi juga mampu memilih dan menggunakannya sesuai kebutuhan.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close