Notification

×

OJK SulutGo Hadapi Tantangan Geografis dan Perkembangan Produk Keuangan Digital

19 Agustus 2026 | Agustus 19, 2026 WIB Last Updated 2026-08-19T15:21:37Z

 

Media Update Triwulan III Kantor OJK SulutGo, Rabu (19/8/2026).((indinews.id/Subhan)).



MANADO, indinews.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) menghadapi sejumlah tantangan dalam memperluas edukasi literasi keuangan, mulai dari kondisi geografis hingga perkembangan produk dan layanan keuangan yang semakin kompleks.


Wilayah kepulauan dan daerah dengan akses transportasi terbatas menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi dalam menjangkau masyarakat. 


OJK bersama lembaga jasa keuangan kemudian mengembangkan berbagai pendekatan agar edukasi tetap dapat diberikan kepada masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.


"Tantangan kita secara geografis. Ada beberapa daerah sampai ke Halmahera Selatan, daerah Bacan dan lain-lain. Mau tidak mau kita kerja sama dengan lembaga jasa keuangan terdekat, bagaimana dilakukan via Zoom," ujar Kepala OJK SulutGo, Robert H Sianipar, pada Media Update Triwulan III Kantor OJK SulutGo, Rabu (19/8/2026).


Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu solusi untuk memperluas jangkauan edukasi. Masyarakat di daerah sasaran dapat dikumpulkan di lokasi tertentu dan mengikuti kegiatan secara daring bersama pemateri.


Di tengah perkembangan digitalisasi, tantangan literasi juga semakin kompleks. Masyarakat tidak lagi hanya berhadapan dengan produk perbankan seperti tabungan dan deposito, tetapi juga layanan keuangan digital yang terus berkembang.


Buy Now Pay Later (BNPL), aset digital, dan aset kripto menjadi beberapa produk yang membutuhkan pemahaman lebih baik, khususnya di kalangan generasi muda.


"Perkembangan produk dan layanan keuangan itu semakin kompleks, semakin canggih. Jadi materi edukasi kita yang sebelumnya dilakukan perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman," katanya.


OJK menilai kondisi tersebut membuat materi edukasi harus terus diperbarui. Masyarakat perlu memahami manfaat, risiko, biaya, serta hak dan kewajibannya sebelum menggunakan suatu produk atau layanan keuangan.


Digitalisasi juga menjadi peluang bagi lembaga terkait untuk menyampaikan edukasi secara lebih luas. Media sosial dan berbagai platform digital dapat dimanfaatkan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang sulit ditemui melalui edukasi tatap muka.


Selain itu, OJK terus melakukan pemetaan terhadap wilayah yang sudah maupun belum mendapatkan edukasi. Pemantauan tersebut dilakukan untuk membantu menentukan prioritas kegiatan berikutnya.


Namun, OJK mengakui masih terdapat tantangan dalam mengukur dampak langsung dari kegiatan edukasi terhadap peningkatan literasi masyarakat di setiap daerah.


Karena itu, sinergi antara OJK, pemerintah daerah, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan program.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close