Notification

×

Trafik Penumpang Pelindo Regional 4 Tumbuh 12,9 Persen, Tembus 6,02 Juta Orang

18 September 2026 | September 18, 2026 WIB Last Updated 2026-09-18T06:24:24Z

 

Aktivitas pelayanan kapal dan arus penumpang di salah satu pelabuhan yang berada dalam wilayah kerja Pelindo Regional 4. Hingga Agustus 2026, trafik penumpang tercatat tumbuh 12,9 persen secara tahunan. (Dok. Istimewa)

MAKASSAR, indinews.id – Aktivitas pelabuhan di kawasan timur Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif sepanjang Januari hingga Agustus 2026. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 mencatat trafik penumpang mencapai 6,02 juta orang, meningkat 12,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 5,33 juta orang.


Pertumbuhan juga terjadi pada sejumlah indikator operasional lainnya. Trafik kapal berdasarkan gross tonnage (GT) naik 5,3 persen, dari 279,99 juta GT menjadi 294,82 juta GT.

Sementara berdasarkan jumlah kunjungan, trafik kapal meningkat 2,4 persen dari 78.172 unit menjadi 80.023 unit.


Untuk arus peti kemas, Pelindo Regional 4 mencatat pertumbuhan 3,9 persen berdasarkan satuan twenty-foot equivalent units (TEUs), dari 1,64 juta TEUs menjadi 1,70 juta TEUs. Jika dihitung berdasarkan jumlah boks, kenaikannya mencapai 3,7 persen, dari 1,38 juta boks menjadi 1,43 juta boks.


Executive Director 4 Pelindo Regional 4 Abdul Azis mengatakan capaian tersebut menunjukkan aktivitas kepelabuhanan di wilayah timur Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika perdagangan dan distribusi barang.


“Pertumbuhan trafik kapal, peti kemas, dan penumpang hingga Agustus 2026 mencerminkan peran pelabuhan yang terus menguat dalam mendukung konektivitas serta mobilitas masyarakat dan barang di wilayah kerja Regional 4,” kata Abdul Azis, Jumat (18/9/2026).


Menurut dia, perusahaan terus memperkuat keandalan pelayanan melalui koordinasi operasional, optimalisasi fasilitas, serta peningkatan kualitas layanan bagi pengguna jasa.


Pelindo Regional 4 juga mendorong setiap cabang untuk menyesuaikan pengembangan layanan dengan karakteristik dan potensi komoditas di wilayah masing-masing.


“Setiap cabang memiliki karakteristik dan potensi komoditas yang berbeda. Karena itu, kami terus mendorong cabang agar responsif terhadap kebutuhan pengguna jasa dan mampu menangkap peluang pertumbuhan trafik di wilayah masing-masing,” ujarnya.


Dari sisi trafik kapal berdasarkan GT, Pelabuhan Ternate menjadi salah satu cabang dengan pertumbuhan tertinggi. Trafiknya melonjak 302,3 persen, dari 3,68 juta GT menjadi 14,79 juta GT.


Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi tambahan pencatatan arus kegiatan Lawui oleh PT Jasa Armada Indonesia (JAI) Tbk yang sebelumnya belum tercatat dalam Regional 4.


Pelabuhan Pantoloan menyusul dengan pertumbuhan 20 persen, dari 3,94 juta GT menjadi 4,72 juta GT. Pertumbuhan ini berkaitan dengan meningkatnya aktivitas kapal penumpang dan kapal tongkang di terminal untuk kepentingan sendiri (TUKS).


Pelabuhan Samarinda tumbuh 14,1 persen dari 32,60 juta GT menjadi 37,21 juta GT, sedangkan Pelabuhan Merauke naik 12,4 persen dari 1,07 juta GT menjadi 1,21 juta GT.


Pelabuhan Bontang juga mencatat pertumbuhan 10,4 persen, dari 21,82 juta GT menjadi 24,08 juta GT. Peningkatan tersebut ditopang aktivitas kapal curah kering di TUKS.


Pada sektor peti kemas, pertumbuhan tertinggi dicatat TPK New Makassar 2 atau Makassar New Port (MNP), yang meningkat 24,2 persen dari 255.378 TEUs menjadi 317.219 TEUs. 

Kenaikan tersebut dipengaruhi peningkatan muatan hasil pertanian dan komoditas nikel.


Pelabuhan Parepare tumbuh 16,3 persen dari 7.040 TEUs menjadi 8.190 TEUs, seiring tambahan layanan peti kemas PT Meratus untuk kegiatan muat beras dan bongkar kebutuhan masyarakat.


Pelabuhan Kendari mencatat pertumbuhan 15,7 persen dari 94.674 TEUs menjadi 109.504 TEUs, yang antara lain ditopang peningkatan trafik dari Pelayaran Tanto.



Sementara itu, Pelabuhan Jayapura tumbuh 11,2 persen dari 56.008 TEUs menjadi 62.273 TEUs akibat peningkatan trafik pelayaran SPIL. Pelabuhan Merauke juga naik 10,6 persen dari 33.653 TEUs menjadi 37.237 TEUs, didukung aktivitas proyek strategis nasional di Papua Selatan.


Pertumbuhan signifikan juga terlihat pada arus barang nonpetikemas. Pelabuhan Manado mencatat kenaikan tertinggi sebesar 171,2 persen, dari 53.660 ton menjadi 145.532 ton. Peningkatan terutama berasal dari bertambahnya pengiriman barang menuju Halmahera.


Pelabuhan Jayapura tumbuh 101,3 persen dari 65.879 ton menjadi 132.618 ton, seiring meningkatnya kegiatan bongkar muat general cargo.


Pelabuhan Samarinda mencatat pertumbuhan 93,4 persen, dari 133.779 ton menjadi 258.755 ton. Kenaikan tersebut berasal dari kegiatan general cargo dan curah kering batu bara di lokasi TCM.


Di Pelabuhan Parepare, arus barang nonpetikemas meningkat 28 persen, dari sekitar 599.698 ton menjadi 767.331 ton. Pertumbuhan didorong kegiatan muat clinker dan limestone serta bongkar batu bara.


Sementara Pelabuhan Makassar tumbuh 4,6 persen, dari 2,65 juta ton menjadi 2,77 juta ton. Kinerja tersebut ditopang kegiatan curah kering PT Eastern Pearl Flour Mills (EPFM) dan bag cargo semen.


Untuk trafik penumpang, Pelabuhan Kendari mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 34,5 persen, dari 367.326 orang menjadi 494.119 orang. Kenaikan tersebut dipengaruhi tambahan kunjungan kapal yang melayani rute baru, termasuk menuju Konawe Kepulauan.


Pelabuhan Ambon tumbuh 18,9 persen, dari 673.313 orang menjadi 800.837 orang. Peningkatan dipengaruhi bertambahnya penumpang kapal Pelni dan kapal perintis di Pelabuhan Slamet Riyadi, termasuk selama periode Natal dan Tahun Baru.


Pelabuhan Parepare mencatat pertumbuhan penumpang 17,8 persen, dari 572.176 orang menjadi 674.060 orang, terutama akibat meningkatnya mobilitas masyarakat selama angkutan Lebaran.


Pelabuhan Balikpapan juga tumbuh 12,6 persen dari 579.719 orang menjadi 652.898 orang, dengan peningkatan terutama terjadi pada periode mudik Lebaran.


Sementara Pelabuhan Makassar mencatat kenaikan 9,8 persen, dari 673.512 orang menjadi 739.788 orang. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah penumpang kapal Pelni dan Dharma Lautan Utama.


Division Head Operasi Pelindo Regional 4 Yusida M. Palesang mengatakan pertumbuhan trafik di sejumlah cabang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pembukaan rute baru, tambahan layanan pelayaran, peningkatan aktivitas komoditas unggulan hingga mobilitas masyarakat pada periode hari besar keagamaan.


“Penguatan trafik terjadi dengan pendorong yang berbeda di setiap pelabuhan. Ada cabang yang tumbuh karena tambahan layanan peti kemas, peningkatan kegiatan batu bara dan general cargo, serta pembukaan rute penumpang baru,” kata Yusida.


Meski mencatat pertumbuhan pada sejumlah indikator, Pelindo Regional 4 tetap memantau beberapa sektor yang belum mencapai sasaran, khususnya trafik barang nonpetikemas dan aktivitas peti kemas pada sejumlah cabang.


“Kami terus berkoordinasi dengan pengguna jasa, perusahaan pelayaran, dan pemangku kepentingan daerah untuk mengoptimalkan potensi muatan serta menjaga kelancaran pelayanan kapal dan barang hingga akhir tahun,” tutup Yusida.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close