![]() |
| Aktivitas perdagangan komoditas pangan di pasar tradisional Manado. Kenaikan harga tomat dan cabai menjadi salah satu pendorong inflasi Sulawesi Utara pada Oktober 2026. (Indinews.id/Subhan). |
MANADO, indinews.id - Tekanan harga kebutuhan pokok di Sulawesi Utara (Sulut) masih membayangi masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut mencatat inflasi tahunan pada Oktober 2026 mencapai 8,07 persen.
Berdasarkan rilis BPS Sulut, Senin (2/11/2026), inflasi bulanan pada Oktober tercatat sebesar 0,57 persen dibandingkan September 2026. Sementara inflasi tahun kalender atau Januari–Oktober 2026 mencapai 7,96 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Watekhi mengatakan, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama pendorong inflasi.
"Komoditas yang memberikan andil terhadap kenaikan harga antara lain tomat, cabai merah, cabai rawit, daun bawang, dan beras," ujarnya.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan kenaikan indeks sebesar 1,26 persen.
Di tengah kenaikan harga tersebut, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga sehingga membantu menahan laju inflasi.
Komoditas tersebut meliputi ikan selar atau ikan tude, ikan malalugis atau ikan sorihi, ikan cakalang atau ikan sisik, ikan deho, serta daging babi.
Tingginya inflasi tahunan ini menunjukkan bahwa tekanan harga masih menjadi tantangan bagi perekonomian daerah, khususnya dalam menjaga daya beli masyarakat.
Perkembangan harga komoditas pangan menjadi perhatian penting karena perubahan harga kebutuhan sehari-hari memiliki dampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.
(sab)
