Notification

×

BI Dorong UMKM Sulut Naik Kelas, Tiga Produk Tembus Pasar Ekspor

16 Agustus 2026 | Agustus 16, 2026 WIB Last Updated 2026-08-16T06:14:25Z

 

Servie Kilis, Ketua UMKM Naik Kelas Sulut, Minggu (16/8/2026).((Indinews.id/Subhan)



MANADO, indinews.id - Keberadaan Urban Digifest X Sulut Coffee Fest 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) dinilai memberikan ruang penting bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sulawesi Utara untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kualitas produk.


Ketua UMKM Naik Kelas Sulawesi Utara, Servie Kilis, mengatakan kegiatan seperti pameran menjadi salah satu sarana bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus mengukur kesiapan mereka menuju pasar yang lebih luas.


“Dengan adanya Urban Digifest X Sulut Coffee Fest 2026, khususnya pameran dari Bank Indonesia, itu banyak terbantukan. Dari hasil karya anak-anak yang ikut di sini, kita bisa tahu apa yang kurang dari UMKM,” kata Servie, Minggu (16/8/2026).


Menurut dia, upaya mendorong UMKM naik kelas telah dilakukan secara bertahap. Pelaku usaha tidak langsung diarahkan ke pasar internasional, tetapi terlebih dahulu harus menguasai pasar lokal dan nasional.


“Kalau sampai lokalnya sudah mampu, dia masuk ke pasar nasional. Kalau nasional sudah bagus, dia mesti masuk ke internasional,” ujarnya.


Servie menyebut sejumlah produk UMKM binaan telah berhasil menembus pasar luar negeri. Produk tersebut antara lain pisang gorho, singkong, serta olahan cakalang.


“Cakalang sudah. Sambal cakalang kita sudah tembus Jepang, Brunei, Malaysia,” katanya.


Ia mengungkapkan, saat ini terdapat tiga pelaku UMKM yang telah berhasil melakukan ekspor ke Malaysia. Proses menuju tahap tersebut dilakukan melalui seleksi dan pelatihan agar produk yang dihasilkan benar-benar memiliki kesiapan untuk bersaing di pasar global.


“Kalau yang naik kelas, kita yang sudah ekspor ada tiga orang. Tiga ke Malaysia,” ungkapnya.


Servie menilai salah satu tantangan terbesar UMKM untuk memasuki pasar ekspor adalah minimnya pemahaman mengenai mekanisme perdagangan internasional, termasuk cara menemukan pembeli atau buyer yang kredibel.


Karena itu, menurut dia, pelaku UMKM perlu membangun jejaring dengan berbagai pihak, termasuk perwakilan Indonesia di luar negeri.


“Kita mesti bekerja sama dengan kedutaan. Di setiap kedutaan ada yang bisa membantu. Mereka bisa mencari peluang juga di sana,” tuturnya.


Ia berharap dukungan BI terhadap pengembangan UMKM dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Pameran dinilai bukan sekadar menjadi tempat promosi, tetapi juga mempertemukan produk potensial dari Sulawesi Utara dengan calon pembeli.


“BI itu sangat membantu kita, jujur. Jadi setiap tahun kita berharap harus rutin,” katanya.


Servie juga menyoroti munculnya sejumlah produk lokal yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Ia mencontohkan Kopi Koya yang menurutnya memiliki cita rasa berbeda dan layak diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas.


“Itu yang kita berharap, ada potensi-potensi yang ada dari Sulawesi Utara yang bisa kita kembangkan untuk nasional bisa tahu,” ujarnya.


Untuk tahun ini, UMKM Naik Kelas Sulawesi Utara menargetkan sedikitnya 10 pelaku usaha siap memasuki pasar internasional. Target tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah pusat dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) pusat.


“Kita target tahun ini mesti ada 10 orang yang siap. Sepuluh UMKM yang harus go international,” kata Servie.


Ia berharap sinergi antara BI, pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pihak terkait dapat mempercepat proses transformasi UMKM Sulawesi Utara agar semakin kompetitif, baik di tingkat nasional maupun global.


(sab)

CLOSE ADS
CLOSE ADS
close