BOLTARA, indinews.id - Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Sulawesi Utara, terus mendorong pemanfaatan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus menekan biaya produksi petani.
Salah satu hasil penerapan teknologi tersebut terlihat dalam panen padi di Jambusarang. Melalui program pengembangan teknologi pertanian yang dilakukan bersama Balai Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Sulawesi Utara dan Kementerian Pertanian, produktivitas padi di lokasi tersebut mencapai 10,3 ton gabah kering per hektare.
Bupati Boltara, Sirajudin Lasena mengataka, capaian itu dinilai cukup tinggi jika dibandingkan dengan produktivitas rata-rata padi di wilayah Bolmut yang berada di kisaran 4–5 ton gabah kering per hektare.
“Alhamdulillah, Bolaang Mongondow Utara menjadi perwakilan Sulawesi Utara dalam implementasi teknologi pertanian. Hasilnya cukup luar biasa, kita mencapai 10,3 ton gabah kering per hektare,” ujar Bupati Sirajudin pada kegiatan High Level Meeting (HLM) TPID dan TP2DD di Auditorium lantai III Kantor Bupati Boltara, Selasa, (8/9/2026).
Panen tersebut juga melibatkan sejumlah pihak, termasuk Badan Pusat Statistik (BPS) dan tenaga penyuluh pertanian. Dalam kegiatan itu, petani menggunakan varietas padi hasil kerja sama Pemerintah Kabupaten Boltara dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Boltara saat ini telah mengembangkan sekitar sembilan varietas padi IPB yang kemudian disebarluaskan kepada petani di berbagai wilayah. Pengembangan varietas tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan produktivitas tanaman pangan lokal.
Selain varietas unggul, peningkatan hasil panen juga didukung penerapan sistem tanam benih langsung atau tabela.
Berbeda dengan pola konvensional yang mengharuskan benih disemai, dicabut, kemudian dipindahkan ke lahan, tabela memungkinkan benih langsung ditaburkan di area persawahan.
Penerapan sistem tersebut menjadi bagian dari teknologi Pertanian Modern Agriculture Advance System (PMAAS) yang mulai diperkenalkan di Boltara. Teknologi tersebut mengadopsi sistem pertanian modern yang diterapkan di Arkansas, Amerika Serikat.
“Di negara-negara maju, mereka menanam padi sudah tidak seperti kita yang bibitnya disemai dulu, kemudian diangkat dan dipindahkan. Mereka langsung menggunakan benih, atau tabela,” katanya.
Di Boltara, sistem tabela diterapkan melalui dua cara, yakni menggunakan alat untuk menaburkan benih dan dilakukan secara manual. Metode manual membutuhkan keterampilan agar benih dapat tersebar secara merata di lahan.
Kedua metode tersebut telah mulai dipraktikkan di wilayah Boltara. Di Jambusarang, misalnya, petani menggunakan metode tabela tanpa alat dengan cara menaburkan benih secara langsung ke lahan.
Hasilnya menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan. Dari rata-rata sekitar 5 ton gabah kering per hektare, hasil panen melalui penerapan teknologi tersebut mencapai 10,3 ton per hektare.
“Yang dipraktikkan di Jambusarang itu tabela tanpa alat, benihnya disebar. Hasilnya luar biasa, 10,3 ton gabah kering per hektare. Rata-rata kita di sini empat atau lima ton, dengan teknologi itu sudah 10,3 ton,” ujarnya.
Penerapan teknologi serupa juga disiapkan di Busi Singo Utara. Sebelum menggunakan sistem tabela, varietas padi IPB di wilayah tersebut mampu menghasilkan sekitar 7–8 ton gabah kering per hektare. Pemerintah memperkirakan produktivitas masih berpotensi meningkat setelah metode tanam benih langsung diterapkan.
Pemerintah Kabupaten Boltara kemudian mendorong camat dan sangadi untuk menyosialisasikan sistem tersebut kepada petani di wilayah masing-masing. Langkah itu diharapkan dapat memperluas penggunaan teknologi pertanian sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani.
Menurut Bupati, salah satu keunggulan tabela adalah biaya penanaman yang lebih rendah. Petani tidak perlu mengeluarkan biaya untuk proses persemaian, pencabutan bibit, maupun pemindahan tanaman ke lahan.
“Saya sudah sampaikan kepada seluruh camat dan sangadi agar segera disosialisasikan sistem penanaman ini. Kita menggunakan tabela karena ongkosnya relatif sangat murah. Kita tidak lagi mengeluarkan biaya untuk menanam, menyemai bibit, memindahkan, dan sebagainya. Kita cukup langsung tabur benih,” katanya.
Meski lebih efisien dari sisi biaya, metode tersebut membutuhkan benih dalam jumlah lebih banyak. Kebutuhan benih diperkirakan meningkat sekitar 40–60 persen dibandingkan metode penanaman biasa.
Namun, tambahan kebutuhan benih tersebut dinilai masih sebanding dengan efisiensi biaya penanaman dan potensi peningkatan produksi.
“Konsekuensinya memang benih agak lebih banyak, kira-kira 40 sampai 60 persen volumenya lebih banyak. Namun, untuk hasil produksi, perawatan, serta biaya dalam pemanfaatan lahan, lebih rendah,” ujarnya.
Pemerintah daerah berharap penerapan teknologi pertanian modern tidak berhenti pada kegiatan percontohan, tetapi dapat diterapkan secara luas dan berkelanjutan oleh petani.
Dengan demikian, peningkatan produktivitas tidak hanya berdampak terhadap hasil panen, tetapi juga dapat memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani di Boltara.
Dalam kesempatan tersebut, turut disampaikan perkembangan digitalisasi transaksi pemerintah daerah melalui Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).
Di Boltara, transaksi pemerintah daerah disebut telah mulai diterapkan secara digital sejak 2018, khususnya pada aspek pengeluaran pemerintah daerah.
(sab)
