MAKASSAR, indinews.id - Limbah plastik segel tangki dari aktivitas operasional Pertamina Integrated Terminal (IT) Makassar kini dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna sekaligus berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Inisiatif tersebut dijalankan Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui IT Makassar dengan menggandeng kelompok pemuda yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan, yakni Bio Urban dan Payabo.Id.
Dalam sebulan, aktivitas operasional IT Makassar menghasilkan sekitar 143,5 kilogram limbah plastik segel tangki. Limbah non-B3 tersebut kemudian dikumpulkan dan diolah melalui proses pencacahan sebelum dikembangkan menjadi sejumlah produk, antara lain tempat sampah dan furnitur.
Upaya itu juga diarahkan untuk mendukung pengelolaan sampah secara mandiri di Kota Makassar, terlebih dengan kondisi penutupan TPA Antang. Ribuan limbah plastik segel tangki yang sebelumnya belum memiliki nilai guna kini diarahkan menjadi produk yang dapat digunakan kembali.
Salah satu hasil pengolahan yang telah diproduksi berupa tempat sampah dengan desain bernuansa kuning dan biru. Sejumlah produk ditempatkan di beberapa lokasi di Kelurahan Tamalabba, Kecamatan Ujung Tanah, termasuk kawasan Kodaeral VI yang menjadi salah satu lokasi pencacahan limbah segel.
Tempat sampah hasil pengolahan juga ditempatkan di sejumlah titik di area IT Makassar. Selain memiliki fungsi praktis, keberadaan produk tersebut diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi pekerja dan tamu mengenai pentingnya pengelolaan limbah serta peluang pemanfaatan kembali limbah industri.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, mengatakan program tersebut membuktikan bahwa limbah operasional masih dapat dimanfaatkan melalui inovasi dan kerja sama dengan masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah yang dihasilkan dari kegiatan operasional tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Dengan inovasi dan kolaborasi bersama masyarakat, limbah plastik segel ini dapat diolah menjadi produk yang memiliki fungsi, nilai estetika, sekaligus memberikan manfaat ekonomi,” ujar Lilik, Sabtu (5/9/2026).
Ia menilai keterlibatan kelompok pemuda dan masyarakat menjadi unsur penting dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, pengelolaan limbah perlu didorong menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat lebih luas.
“Kolaborasi dengan Bio Urban, Payabo.Id, dan masyarakat Kelurahan Tamalabba menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui aksi nyata. Kami berharap inovasi ini tidak berhenti pada produk yang dihasilkan, tetapi juga dapat menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan limbah merupakan tanggung jawab bersama,” lanjutnya.
Program tersebut turut dikaitkan dengan dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui pengelolaan lingkungan perkotaan.
Pemanfaatan kembali limbah plastik juga sejalan dengan SDG 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Sementara keterlibatan masyarakat dan kelompok pemuda dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi dinilai mendukung SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Pertamina IT Makassar menyatakan akan melanjutkan pengembangan pengelolaan limbah non-B3 sekaligus memperluas kolaborasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan di sekitar wilayah operasional.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu model pengelolaan limbah yang tidak hanya mengurangi buangan, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat dan menciptakan nilai ekonomi dari limbah.
(sab)
